Kamis, 01 Januari 2015

Pencapaian Tahun Ini

Terkadang memang, dunia tak selalu berpihak pada kita. Saat realita hidup ini tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan dan impikan, saat itu lah kita dituntut untuk benar-benar ikhlas menerima kenyataan yang ada. Jangan menjadi seseorang yang maunya hanya memilih. Egois. Kenyataan manis maupun pahit haruslah kita telan. 
Di tahun 2014 ini, tahun dimana aku mengubah status pelajarku, dari siswa menjadi mahasiswa. Bukan hal mudah untuk menambahkan kata 'maha' didepan kata 'siswa', butuh bertahun-tahun lamanya. Dan aku tahu, ini bukan hal mudah untuk dijalani. Pasti akan ada fase dimana aku akan menginjak kerikil-kerikil kecil, hingga akhirnya aku tersandung batu. Saat itu, aku hanya punya dua pilihan. Diam saja, menunggu bantuan datang yang entah sampai kapan, ataukah berdiri dan terus berusaha bangkit walau sakit.

Mimpiku adalah menjadi seorang Arsitek. Hobiku menggambar, mendesain, dan senang berimajinasi lewat seni rupa. Tekadku bulat, aku akan kuliah di Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya. Tapi, orang tuaku tidak setuju bila aku kuliah di luar kota. Banyak pertimbangan yang disampaikan mereka kepadaku. Diantaranya, kami memang sangat terkendala dengan biaya. Biaya kuliah, biaya hidup karena jauh dari orang tua. Sempat aku memaksa kepada mereka untuk mengizinkan aku menimba ilmu arsitektur disana. Aku berjanji kepada mereka, seandainya nanti aku diterima di ITS lewat jalur tanpa tes ini, aku akan berusaha untuk mendapatkan beasiswa. Hingga akhirnya aku diizinkan, dengan pernyataan sang Ayah yang cukup membebaniku, "Kalau kamu siap mengambil resiko, Ayah izinkan". Tidak ada tindakan yang terlaksana tanpa ada kemungkinan terjadinya resiko. Aku siap dengan keputusanku, dan aku siap dengan resikonya.
Hari semakin dekat dengan pengumuman hasil seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri. Saat itu aku mulai pesimis dengan pilihanku. Aku mulai takut dengan apa yang menjadi keputusanku beberapa bulan lalu. Hingga tiba hari dimana pengumuman itu keluar, aku dinyatakan tidak lolos seleksi jalur tanpa tes tersebut. Bagaikan terjatuh ke ladang kaktus. Sakit sekali. Tapi aku kembali ke janjiku dulu, bahwa aku sudah siap menerima resiko yang akan ku terima atas keputusanku. Aku berusaha memantapkan hatiku, ini bukanlah akhir. Perjalanan masih jauh, dan aku akan bangkit. Mencari titik awal perjuanganku menimba ilmu. Ikhlas tetap menjadi kunci utama yang ku tanam di dalam hati dan pikiranku.
Seleksi jalur tes tulis dibuka, aku mendaftar di Universitas Trunojoyo Madura, satu-satunya perguruan tinggi negeri yang ada di pulau kecil di sebrang Jawa ini. Akhirnya tertulis namaku bahwa aku dinyatakan lolos seleksi dan diterima dijurusan teknik informatika. Satu dari sekian banyak mimpi yang kugantungkan dalam angan-angan, selain menjadi seorang arsitek, adalah menjadi seorang programer, dengan tujuan bisa mengubah negara tercintaku ini menjadi lebih maju. Dan, ya! Kudapatkan kesimpulan untuk tahun yang penuh cerita ini. Saat jatuh, bukan berarti kita tidak bisa bangkit lagi. Kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan kita menjadi sukses. Justru itu merupakan langkah awal kita untuk meraih titik yang lebih baik dari sebelumnya. Bila jatuh, bangun lagi. Bila gagal, coba lagi. Kata kebanyakan orang, dimana ada kemauan disitu pasti ada jalan. Namun apabila kita menyerah, dalam arti tidak bangun, tidak bangkit, tidak mencari cara lain saat gagal untuk terus berjuang, saat itulah semuanya akan berakhir. Impian kita akan hilang.
Pencapaianku tahun ini, bisa kuliah di perguruan tinggi nasional yang pernah membawa nama Indonesia harum ditingkat dunia, dengan gelar juara II di Rusia, menjadi suatu kebanggan tersendiri. Dan takdirku untuk menimba ilmu disini, tidak jauh dari restu Allah SWT serta kedua orang tua, yang sangat ku sayangi. Ini bukan soal nasib,  keberuntungan maupun kebetulan. Ini adalah takdir yang sudah dituliskan oleh sang Maha Pencipta.

Text Widget

Text Widget

Popular Posts

Pages

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Unordered List

Followers

Recent Posts