Terkadang
memang, dunia tak selalu berpihak pada kita. Saat realita hidup ini tidak
sesuai dengan apa yang kita harapkan dan impikan, saat itu lah kita dituntut
untuk benar-benar ikhlas menerima kenyataan yang ada. Jangan menjadi seseorang
yang maunya hanya memilih. Egois. Kenyataan manis maupun pahit haruslah kita
telan.
Di
tahun 2014 ini, tahun dimana aku mengubah status pelajarku, dari siswa menjadi
mahasiswa. Bukan hal mudah untuk menambahkan kata 'maha' didepan kata 'siswa',
butuh bertahun-tahun lamanya. Dan aku tahu, ini bukan hal mudah untuk dijalani.
Pasti akan ada fase dimana aku akan menginjak kerikil-kerikil kecil, hingga
akhirnya aku tersandung batu. Saat itu, aku hanya punya dua pilihan. Diam saja,
menunggu bantuan datang yang entah sampai kapan, ataukah berdiri dan terus
berusaha bangkit walau sakit.
Mimpiku
adalah menjadi seorang Arsitek. Hobiku menggambar, mendesain, dan senang
berimajinasi lewat seni rupa. Tekadku bulat, aku akan kuliah di Institut
Teknologi Sepuluh November Surabaya. Tapi, orang tuaku tidak setuju bila aku
kuliah di luar kota. Banyak pertimbangan yang disampaikan mereka kepadaku.
Diantaranya, kami memang sangat terkendala dengan biaya. Biaya kuliah, biaya
hidup karena jauh dari orang tua. Sempat aku memaksa kepada mereka untuk
mengizinkan aku menimba ilmu arsitektur disana. Aku berjanji kepada mereka,
seandainya nanti aku diterima di ITS lewat jalur tanpa tes ini, aku akan
berusaha untuk mendapatkan beasiswa. Hingga akhirnya aku diizinkan, dengan
pernyataan sang Ayah yang cukup membebaniku, "Kalau kamu siap mengambil
resiko, Ayah izinkan". Tidak ada tindakan yang terlaksana tanpa ada
kemungkinan terjadinya resiko. Aku siap dengan keputusanku, dan aku siap dengan
resikonya.
Hari
semakin dekat dengan pengumuman hasil seleksi nasional masuk perguruan tinggi
negeri. Saat itu aku mulai pesimis dengan pilihanku. Aku mulai takut dengan apa
yang menjadi keputusanku beberapa bulan lalu. Hingga tiba hari dimana
pengumuman itu keluar, aku dinyatakan tidak lolos seleksi jalur tanpa tes tersebut.
Bagaikan terjatuh ke ladang kaktus. Sakit sekali. Tapi aku kembali ke janjiku
dulu, bahwa aku sudah siap menerima resiko yang akan ku terima atas
keputusanku. Aku berusaha memantapkan hatiku, ini bukanlah akhir. Perjalanan
masih jauh, dan aku akan bangkit. Mencari titik awal perjuanganku menimba ilmu.
Ikhlas tetap menjadi kunci utama yang ku tanam di dalam hati dan pikiranku.
Seleksi
jalur tes tulis dibuka, aku mendaftar di Universitas Trunojoyo Madura,
satu-satunya perguruan tinggi negeri yang ada di pulau kecil di sebrang Jawa
ini. Akhirnya tertulis namaku bahwa aku dinyatakan lolos seleksi dan diterima
dijurusan teknik informatika. Satu dari sekian banyak mimpi yang kugantungkan
dalam angan-angan, selain menjadi seorang arsitek, adalah menjadi seorang
programer, dengan tujuan bisa mengubah negara tercintaku ini menjadi lebih
maju. Dan, ya! Kudapatkan kesimpulan untuk tahun yang penuh cerita ini. Saat
jatuh, bukan berarti kita tidak bisa bangkit lagi. Kegagalan bukanlah akhir
dari perjalanan kita menjadi sukses. Justru itu merupakan langkah awal kita
untuk meraih titik yang lebih baik dari sebelumnya. Bila jatuh, bangun lagi.
Bila gagal, coba lagi. Kata kebanyakan orang, dimana ada kemauan disitu pasti
ada jalan. Namun apabila kita menyerah, dalam arti tidak bangun, tidak bangkit,
tidak mencari cara lain saat gagal untuk terus berjuang, saat itulah semuanya
akan berakhir. Impian kita akan hilang.
Pencapaianku
tahun ini, bisa kuliah di perguruan tinggi nasional yang pernah membawa nama
Indonesia harum ditingkat dunia, dengan gelar juara II di Rusia, menjadi suatu
kebanggan tersendiri. Dan takdirku untuk menimba ilmu disini, tidak jauh dari
restu Allah SWT serta kedua orang tua, yang sangat ku sayangi. Ini bukan soal
nasib, keberuntungan maupun kebetulan.
Ini adalah takdir yang sudah dituliskan oleh sang Maha Pencipta.