Selamat siang! Kenapa siang? Karena saya menulis ini pada saat
laki-laki muslim sedang berbondong-bondong pergi ke masjid, untuk melaksanakan
kewajiban mereka, sholat Jum’at. Walaupun
sebenarnya, tidak ada hubungan antara menulis siang, sholat Jum’at dan isi
cerita di bawah._.
Baiklah, kali ini saya akan menceritakan tentang menghabiskan dua
minggu pada liburan semester untuk merantau ke kota orang. Selama 14 hari saya
mengisi kekosongan itu dengan menambah, mengasah ilmu dibidang bahasa Inggris.
Jujur saja, saya tidak terlalu bisa berbahasa Inggris, tidak terlalu suka juga
tak benci dengannya. Biasa-biasa saja. Namun kemudian saya berpikir tentang
bahasa internasional yang diakui oleh dunia ini. Jika saya tidak begitu paham dan
tidak terbiasa mengaplikasikannya dalam kehidupan, saya akan kesulitan untuk
berinteraksi dengan orang asing. (Ng.... orang asing maksudnya disini itu bule ya, bukan alien-_-) .Mungkin juga akan mempersulit dalam dunia
kerja nantinya. Nah, itulah alasan dibalik mengapa saya harus paham bahasa
Inggris.
Sedikit cerita tentang Desa Tulungrejo yang terletak di Pare, Jawa
Timur. Orang-orang mengenalnya dengan sebutan Kampung Inggris, karena banyaknya
lembaga kursus berbahasa Inggris. Walaupun ada pula kursus bahasa asing lainnya,
seperti bahasa Arab dan Mandarin, meski memang tak sebanyak bahasa Inggris.
Bahkan ada beberapa penjual makanan dan buah yang berinteraksi dengan
pembelinya menggunakan bahasa Inggris. Masyarakat yang ada disini pun
kebanyakan adalah pendatang, perantau dari berbagai kota dan pulau di
Indonesia. Sungguh, desa yang menakjubkan!
Berangkat dan tiba di Pare pada tanggal 26 Juli 2015. Saya,
keluarga yang mengantar serta dua orang teman saya datang menemui pegawai di
lembaga kursus yang sudah kami pilih sebelumnya, Universal English. Setelah
melakukan daftar ulang, kami diantar menuju asrama putri yang jaraknya tak
begitu jauh dari office. Di asrama, banyak tertulis kalimat-kalimat yang
mengharuskan kami, para penghuni asrama menggunakan bahasa Inggris dalam keadaan
apapun. Jika tidak, akan dikenakan denda Rp. 500 per kata, setelah masa
adaptasi tanpa punishment tiga hari.
Hari pertama, ternyata saya dan dua orang teman saya dari
Bangkalan, salah masuk kelas! Ternyata kami salah daftar. Sebenarnya kami
memilih kelas speaking, namun salah klik daftar ke kelas TOEFL. Kami pun
berusaha, bernegosiasi dengan pegawai di office agar bisa dipindahkan ke kelas
speaking. Setelah berkonsultasi dengan salah satu tutor, yang tinggal di asrama
putri, kami bertiga diizinkan pindah ke kelas speaking di hari kedua nantinya.
Waktu berjalan dan terus berganti. Walaupun lelah dirasa, mulai
pukul 5 pagi hingga 8 malam, tugas-tugas yang selalu menghantui itu cukup
terbayar dengan ilmu dan pengetahuan baru, pengalaman, serta teman baru. Ada
yang dari Blitar, Tulungagung, Mojokerto, Probolinggo, Cirebon, Lamongan, Malang,
Cilegon, Jakarta, Bandung, Pontianak, Medan, Ternate, Toraja, dan mungkin masih
banyak lagi dari teman-teman Universal English yang datang dari kejauhan.
Dua minggu sudah berlalu, 8 Agustus 2015 waktunya kembali ke tanah
Madura. Pare dan semua momen-momennya membuat saya benar-benar terkesan, walau
hanya dua minggu berada disana. Membuat saya ingin kembali kesana, menikmati
udara dingin yang menyapa lembut tubuh ini tiap pagi dan malam. Bulan dan
matahari tampak begitu besar nan indah, berhasil menarik perhatian saya. Metode
pembelajaran dan suasananya mendukung untuk terbiasa berbahasa Inggris. Karena
menurut saya, memang pada dasarnya bahasa adalah kebiasaan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar