Minggu, 25 Oktober 2015

Positive Thinking

Adakah diantara kalian yang pernah merasa bahwa dirinya paling berbeda diantara teman-teman disekitarnya? Merasa tidak bisa melakukan sesuatu yang biasa dilakukan oleh teman-temannya. Merasa tidak mendapatkan apa yang bisa didapatkan oleh teman-temannya dengan cara yang terlihat sederhana. Jika ya, mungkin dengan membaca tulisan ini kalian akan mengerti.
Mungkin diantara para pembaca atau teman-teman kalian, ada beberapa yang sempat berpikir atau ingin pindah jurusan. Salah satunya, ada diantara mereka ingin pindah jurusan dengan alasan nilai mata kuliah yang tidak sesuai target, bahkan ada yang sampai harus mengulang mata kuliah tersebut. Merasa tidak bisa mengejar ketertinggalan suatu mata kuliah, yang dianggapnya sulit. Dengan begitu, mereka yang beranggapan bahwa dirinya keliru memilih jurusan tersebut ingin merubah apa yang sudah dipilih sebelumnya.
Apa yang sudah kalian pilih, adalah jalan yang harus dilewati. Berusahalah untuk berprasangka baik pada apapun dan siapapun. Contohnya, jika nilai mata kuliah tidak sesuai dengan yang diinginkan, cobalah untuk mengoreksi diri. Mungkin ada yang salah dalam diri kita. Bisa jadi karena faktor kurang belajar dan kurang serius dengan mata kuliah tersebut. Dengan nilai yang dirasa tidak sesuai target itu, berarti kita harus lebih rajin lagi untuk menekuni mata kuliah tersebut. Nah, itu yang seharusnya jadi pemikiran kalian. Bukan malah sebaliknya. Apalagi sampai menyalahkan orang lain. Kembali lagi, koreksi diri kita terlebih dahulu. Jangan langsung menghakimi diri sendiri bahwa “Saya tidak cocok berada di jurusan ini! Saya ingin pindah!”. Itu tidak membuat kalian semakin maju dan memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik kedepannya. Jika pikiran kalian negatif terhadap sesuatu, mungkin kalian akan terus-menerus merasa jengkel, resah dan tidak akan pernah puas dengan apa yang telah dipilih. Sedangkan berpikiran positif tentang apapun, niscaya akan merubah kalian menjadi lebih dewasa dan melangkahkan kaki ke depan.
Terjatuh seperti itu, hanya ada dua pilihan. Pertama, pasrah dan menyerah. Merasa tidak mau atau tidak ingin bangun dan memperbaiki semuanya, karena berpikir “ah, percuma!”. Kedua, bangun dan berusaha untuk memperbaikiya. Bagi jiwa-jiwa yang tangguh dan mau terus berusaha, jatuh satu kali tidak cukup menjadi alasan untuk menyerah. Selagi masih ada kesempatan untuk menyusun dan menata ulang semuanya yang rusak dari awal, dan berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya, mengapa pilih menyerah?
Percayalah, apa yang sudah kalian jalani sekarang, adalah yang terbaik dari Allah. Karena sesungguhnya, Allah tidak akan memberikan ujian kepada hambanya diluar batas kemampuannya. Berpikirlah positif terhadap apapun dan siapapun, itu akan membuat hati kalian lebih tentram. Apa yang sudah dipilih, itu menjadi tanggung jawab kalian. Berusahalah untuk besikap dewasa dalam menjalani sesuatu. 
Semangat, ya, untuk Kita!

Selasa, 20 Oktober 2015

Do you agree?

C – I – N – T – A .
Empat huruf satu kata, yang sangat menarik untuk dibahas. Jangan sampai salah mengartikan kata di atas, ya. Seperti dizaman sekarang ini, banyak yang mengatasnamakan cinta dalam hubungan ‘pacaran’. Padahal mereka yang sedang menjalin hubungan seperti itu tidak benar-benar menjalaninya berdasarkan perasaan cinta. Apa yang mereka maksud cinta disini hanyalah hawa nafsu yang dipengaruhi oleh setan, yang ingin menjerumuskan manusia ke dalam perzinaan. Sudah jelas dikatakan dalam Al-Qur’an surat Al-Isra’ ayat 32 yang artinya “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”. Jika seorang laki-laki benar-benar mencintai seorang perempuan, ia tak akan mungkin mengajak ke jalan yang buruk lagi sesat alias pacaran.
Pacaran islami? Pacaran agar ada yang mengingatkan untuk tidak melupakan sholat dan mengaji? Tidak ada toleransi untuk itu. Sesungguhnya, sholat itu menjauhkan kita dari perbuatan maksiat. Sholat jalan tetapi maksiat tetap jalan? Coba dicek dan renungkan, sudah benarkah niat sholatnya? Adakah yang bangga punya pacar yang rajin mengaji? Apakah yang seperti itu bisa dikatakan sholeh atau sholehah? Coba tanyakan, sudah sampaikah pada firman Allah SWT dalam Al-Qur’an tentang larangan mendekati zina? Ada lagi, pacaran tapi tidak pernah bersentuhan? Yang namanya pacaran tetap saja pacaran dan tetap dinamakan zina! Mengapa? Karena mengetik pesan alias sms-an, pasti juga sedang memikirkan sesuatu yang sedang ditulisnya dan menimbulkan syahwat. Seperti yang sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an, “Janganlah kamu mendekati zina ...”. Medekati zina saja sudah dilarang oleh Allah, apalagi menjalaninya?
Laki-laki yang tahu ilmu agama akan memuliakan dan menghormati permpuan. Ia tak akan menjatuhkan martabatmu sebagai perempuan dengan mengajak ke jalan yang sama sekali tidak diridhoi oleh Allah. Laki-laki yang benar-benar mencintai seorang perempuan adalah ia yang datang menemui Ayah atau walinya. Meminta izin kepada Ayahnya sebagai pemilik anak perempuannya di dunia ini, untuk menjalankan salah satu sunnah Rasul bersama-sama. Karena sesungguhnya, mencintai sesorang perempuan menurut islam sama sekali bukan dengan jalan mengajaknya untuk berpacaran, melainkan dengan cara menjauhi orang yang dicintai, dan kemudian temui walinya. Laki-laki yang benar mencintai seorang perempuan akan mengajak bersama-sama terus berada di jalan-Nya. Menjadikan pernikahan sebagai tujuannya, bukan malah pacaran! Rasa cintanya ia buktikan dengan mengajaknya menikah. Belum siap? Ini sabda Rasulullah SAW, “Jika ada seorang laki-laki mencintai seorang perempuan, maka melamarnya untuk dijadikan istri merupakan bentuk dari pembuktian cintanya. Jika menyukai, segera nikahi. Tetapi kalau belum mampu, maka berpuasalah, yaitu kendalikan nafsu dan cintai dalam diam. Itu semua demi menjaga kesucian diri sendiri dan kesucian dia yang dicintai.”.
Cinta itu seharusnya menguatkan, bukan melemahkan. Cinta itu seharusnya menghormati, bukan menjatuhkan. Cinta itu seharusnya menjaga, bukan menjerumuskan.
Jangan sedih karena status jomblo yang dibuat-buat oleh manusia. Itu hanya sementara. Jadilah jomblo yang berkualitas, dengan memperbaiki akhlak dan terus menerus jihad di jalan Allah. Karena sesungguhnya, jihad yang paling utama adalah jihad seseorang melawan hawa nafsunya. Jangan sampai terjerumus dan ingin ikut-ikutan tradisi pacaran yang mengatasnamakan cinta selama menjalaninya. Naudzubillah.
Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW, “... cintai dalam diam ...”. Maka jika belum siap, cintailah ia dalam diammu. Cinta ia dengan cara mendoakan. Karena hanya diam dan mendoakanlah cara mencintai seseorang, dengan tetap menjaga kesucian diantara keduanya. Jangan takut dia yang kita cintai diambil orang lain hanya karena kita tidak mengutarakan perasaan cinta kita terhadapnya. Semuanya telah tertulis rapi di lauhul mahfudz. Allah sudah menyiapkan jodoh untuk kita. Dan jodoh dari Allah tak akan mungkin tertukar dengan orang lain. Ketahuilah, dalam surat An-Nur ayat 26, “Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula). Sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula) ....”. Jadi, mana mungkin jodoh kita tertukar?
Jika engkau, laki-laki maupun perempuan, ingin mencari suami yang sholeh dan istri yang sholehah, bukan dengan mengenalnya lebih dahulu, kemudian kau bisa menentukan dirinya yang ingin kau jadikan pasangan, sholeh atau tidak, sholehah atau tidak, dan pantas atau tidak. Karena sesungguhnya, ia yang sholeh dan sholehah tidak akan mau diajak dalam lingkaran pacaran yang sudah jelas haram hukumnya dalam islam.
Cinta adalah engkau ingin hidup bersamanya di surga, karena keberadaan kamu berdua bersama di dunia tidaklah cukup.

Yang terpenting adalah jangan sampai kita terlalu mencintai makhluk-Nya dibandingkan pencipta-Nya. Dalam surat At-Taubat ayat 24 memperingatkan kita untuk tetap menjadikan Allah SWT dan Rasul-Nya yang paling kita cintai diatas segalanya. Karena jika tidak, Allah akan mendatangkan azab/siksaan-Nya. Jadi, cintai ia sewajarnya saja, jangan berlebih. Karena sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. 

Selasa, 15 September 2015

Dirgahyu Indonesia-ku

Halo, selamat pagi! Tulisan ini sebenarnya sudah terlalu telat ya untuk ditulis, apalagi diposting. Ngga oke banget nih penulisnya. (ehem, penulisnya siapa ya'-'). Baiklah, langsung saja supaya tidak terlalu banyak basa-basinya, capek juga ngetik :v hahaha. 
INDONESIA! MERDEKA!!
Saya ada cerita sedikit tentang hari kemerdekaan Indonesia, tanggal 17 Agustus yang dirayakan setiap tahunnya oleh bangsa, warga, dan negara Indonesia tercinta ini. Pada tahun....berapa ya, saya lupa._. ketika saya duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) di SMPN 1 Bangkalan, saya ditunjuk dan dipilih menjadi peserta aubade alias tukang nyanyi rame-rame bareng teman-teman terpilih se-kabupaten Bangkalan. Pada saat itu,  saya berada di lapangan hijau tempat upacara bendera kebanggaan Indonesia, Merah Putih, menjadi bagian dari susksenya acara kenegaraan ini. Sembari menunggu urutan acara yang menjadi bagian kami, yaitu paduan suara, ada pasukan pengibar bendera pusaka (PASKIBRAKA) Kabupaten Bangkalan masuk dan mengibarkan bendera Merah Putih. Mereka begitu gagah dan rapi. Kemudian saya berkhayal dan bermimpi, "suatu saat nanti, aku ingin menjadi seorang paskibraka. Minimal paskibraka tingkat kota  aja!", ucap saya dalam hati sambil meyakinkan diri. 
Masuk ke sekolah menegah atas (SMA) di SMAN 3 Bangkalan, ada anggota purna paskibraka Indonesia alias PPI Kab. Bangkalan datang ke sekolah untuk melaksanakan kegiatan seleksi paskibraka pada tahun 2011. Saya dipilih dan ikut seleksi baris-berbaris yang dilakukan di sekolah. Sayangnya, saya tidak lolos seleksi. Entah apa alasannya. Disitu kadang saya merasa sedih. (loh, kayak meme aja-_-) .
Awalnya, setelah diberitahukan bahwa saya tidak lolos, saya putus asa. Iya! Putus asa! Sudah hilang harapan dan mimpi ini untuk menjadi salah satu orang yang ikut berpartisipasi mengibarkan bendera kebanggaan di pusat kota, Alun-Alun Bangkalan. Namun, Alhamdulillah. Allah benar-benar memberikan jalan ajaib untuk saya yang putus asa ini. Saat kenaikan kelas 2, saya iseng main ke sekolah, padahal lagi libur kenaikan kelas. (rajin apa kurang kerjaan ya-_-). Ternyata sedang diadakan seleksi paskibraka untuk tahun 2012. Ketika itu saya sedang lewat di depan senior PPI yang sedang duduk-duduk di dekat kolam ikan. Dan saya dipanggil. Diintrogasi tentang tinggi badan, pernah atau tidak ikut paskibraka. Dengan polosnya saya menjawab, "dulu pernah ikut seleksi, tapi ga lolos, kak. Mungkin kurang tinggi atau .... entahlah". Dengan nada kaget, mereka menjawab, "masa kurang tinggi? Itu cukup! Ayo kelapangan ikut seleksi lagi!". It's real? He give me an opportunity?
Seleksi di sekolah? LOLOS! Lanjut seleksi dengan murid SMA lainnya se-kabupaten Bangkalan. Saya mendapat nomor peserta 400an, entah saya lupa._.  Kemudian saya bertanya-tanya, apakah saya bisa lolos ke tahap berikutnya? Siswa yang ikut lebih dari 400 orang, yang punya 'koneksi' juga pasti banyak. Apalah arti saya, seorang siswi dari sekolah biasa, anak orang biasa, bukan petinggi-petinggi seperti diluar sana? Bisakah saya masuk seleksi berikutnya dengan benar-benar 'murni tanpa 'koneksi'?
Seleksi demi seleksi berjalan. Tidak hanya diseleksi satu atau dua kali. Tapi banyak sekali! Dan seleksi terakhir yang paling membuat saya dag dig dug tidak jelas. Pesimis saya muncul.
"Aku kok ngga yakin masuk, ya. Banyak dari mereka anak pejabat, polisi, dan ....."
"Masuk, Lin! Dengerin ya, nanti nomor peserta kamu disebut kok. Yakin aja!", sahabat saya yang bersekolah di tempat yang menjadi tuan rumah seleksi paskibra itu menyemangati.
Baiklah, saya optimis. Harus OPTIMIS!
Lamaaaa sekali, panaaass. Lapar, haus, sudah siang! Nomor peserta saya tak kunjung disebutkan. Pupus....
TAAAPPPIIII! AKHIRNYA NOMOR PESERTA SAYA DISEBUT! SAYA LOLOS SELEKSI TAHUN INI! Mimpi ketika saya kelas 9 terwujud di kelas 11. Alhamdulillah, Allah Maha Baik kepada hambanya.
Menjadi anggota paskibraka, jiwa nasionalisme saya sepertinya bertambah. Saya semakin mencintai negeri ini. Saya semakin kagum dengan negeri ini. Indonesia-ku!
Setidaknya, saya bisa membuat orang tua cukup bangga dengan seragam putih ini, seragam paskibraka kabupaten! Meskipun sekarang cuma terpajang rapi di lemari....
Dan, di tahun ini, 2015. Indonesia berusia 70 tahun, atas izin Yang Maha Kuasa, lagi-lagi saya bisa kesana, berada di lapangan hijau itu lagi, sebagai tukang foto! Tapi, foto-fotonya cuma iseng, bukan tukang foto bayaran. Apalagi tukang foto yang diutus Bupati wkwk bukan banget. Belum profesional ngambil gambar yang bagus, karena memang saya tidak bersekolah di dunia fotografi. Saya pun belajarnya otodidak, dan ini cuma hobi. Ditambah lagi, hobi ini tidak berhubungan dengan jurusan kuliah yang saya ambil-_- yaudaaaaa gitu aja.
Ini beberapa hasil asal jepret saya waktu itu, 17 Agustus 2015.





Jumat, 28 Agustus 2015

I’ll be back, someday!


Selamat siang! Kenapa siang? Karena saya menulis ini pada saat laki-laki muslim sedang berbondong-bondong pergi ke masjid, untuk melaksanakan kewajiban mereka, sholat Jum’at. Walaupun sebenarnya, tidak ada hubungan antara menulis siang, sholat Jum’at dan isi cerita di bawah._.
Baiklah, kali ini saya akan menceritakan tentang menghabiskan dua minggu pada liburan semester untuk merantau ke kota orang. Selama 14 hari saya mengisi kekosongan itu dengan menambah, mengasah ilmu dibidang bahasa Inggris. Jujur saja, saya tidak terlalu bisa berbahasa Inggris, tidak terlalu suka juga tak benci dengannya. Biasa-biasa saja. Namun kemudian saya berpikir tentang bahasa internasional yang diakui oleh dunia ini. Jika saya tidak begitu paham dan tidak terbiasa mengaplikasikannya dalam kehidupan, saya akan kesulitan untuk berinteraksi dengan orang asing.  (Ng.... orang asing maksudnya disini itu bule ya, bukan alien-_-) .Mungkin juga akan mempersulit dalam dunia kerja nantinya. Nah, itulah alasan dibalik mengapa saya harus paham bahasa Inggris.
Sedikit cerita tentang Desa Tulungrejo yang terletak di Pare, Jawa Timur. Orang-orang mengenalnya dengan sebutan Kampung Inggris, karena banyaknya lembaga kursus berbahasa Inggris. Walaupun ada pula kursus bahasa asing lainnya, seperti bahasa Arab dan Mandarin, meski memang tak sebanyak bahasa Inggris. Bahkan ada beberapa penjual makanan dan buah yang berinteraksi dengan pembelinya menggunakan bahasa Inggris. Masyarakat yang ada disini pun kebanyakan adalah pendatang, perantau dari berbagai kota dan pulau di Indonesia. Sungguh, desa yang menakjubkan!
Berangkat dan tiba di Pare pada tanggal 26 Juli 2015. Saya, keluarga yang mengantar serta dua orang teman saya datang menemui pegawai di lembaga kursus yang sudah kami pilih sebelumnya, Universal English. Setelah melakukan daftar ulang, kami diantar menuju asrama putri yang jaraknya tak begitu jauh dari office. Di asrama, banyak tertulis kalimat-kalimat yang mengharuskan kami, para penghuni asrama menggunakan bahasa Inggris dalam keadaan apapun. Jika tidak, akan dikenakan denda Rp. 500 per kata, setelah masa adaptasi tanpa punishment tiga hari.
Hari pertama, ternyata saya dan dua orang teman saya dari Bangkalan, salah masuk kelas! Ternyata kami salah daftar. Sebenarnya kami memilih kelas speaking, namun salah klik daftar ke kelas TOEFL. Kami pun berusaha, bernegosiasi dengan pegawai di office agar bisa dipindahkan ke kelas speaking. Setelah berkonsultasi dengan salah satu tutor, yang tinggal di asrama putri, kami bertiga diizinkan pindah ke kelas speaking di hari kedua nantinya.
Waktu berjalan dan terus berganti. Walaupun lelah dirasa, mulai pukul 5 pagi hingga 8 malam, tugas-tugas yang selalu menghantui itu cukup terbayar dengan ilmu dan pengetahuan baru, pengalaman, serta teman baru. Ada yang dari Blitar, Tulungagung, Mojokerto, Probolinggo, Cirebon, Lamongan, Malang, Cilegon, Jakarta, Bandung, Pontianak, Medan, Ternate, Toraja, dan mungkin masih banyak lagi dari teman-teman Universal English yang datang dari kejauhan.
Dua minggu sudah berlalu, 8 Agustus 2015 waktunya kembali ke tanah Madura. Pare dan semua momen-momennya membuat saya benar-benar terkesan, walau hanya dua minggu berada disana. Membuat saya ingin kembali kesana, menikmati udara dingin yang menyapa lembut tubuh ini tiap pagi dan malam. Bulan dan matahari tampak begitu besar nan indah, berhasil menarik perhatian saya. Metode pembelajaran dan suasananya mendukung untuk terbiasa berbahasa Inggris. Karena menurut saya, memang pada dasarnya bahasa adalah kebiasaan.

Semoga saya diberi kesempatan lagi untuk kembali ke Pare, belajar bahasa Inggris, mendapat teman baru, mendapat pengalaman, pelajaran dan momen-momen indah tak terlupakan.


Minggu, 28 Juni 2015

Langkah Awal Belajar Taat

Kalian percaya tentang datangnya hidayah? Buat yang percaya, Alhamdulillah. Dan untuk yang belum percaya, coba deh percaya. Sungguh, Allah itu Maha atas segala-galanya. Dia mendatangkan hidayah kepada setiap makhluk-Nya dengan cara yang tak diduga. Contohnya saya sendiri. Seandainya saya tidak dipaksa oleh kedua orang tua saya untuk segera mengenakan hijab pada saat duduk dibangku sekolah menengah atas, mungkin hingga saat ini, saya sendiri tidak bisa membayangkan betapa hancurnya saya. Mengenakan penutup kepala, dalam artian hijab, adalah wajib bagi setiap muslimah. Ada sebagian orang bilang, ketika disuruh untuk menutup auratnya, seperti berhijab, mereka berkata, “nanti saja, belum dapat hidayah”. Menurut saya, itu adalah pernyataan dan alasan yang keliru. Tidak masuk akal! Hidayah tidak datang begitu saja. Hidayah Allah tidak datang kepada mereka yang hanya menunggu, tanpa ada kemauan dari dirinya sendiri. Jika terus-terusan menunggu datangnya hidayah, kesempatan kita untuk berubah menjadi lebih baik semakin lama. Itu akan membuang-buang waktu. Iya kalau kita tau kapan kita akan mati. Kita bisa mempersiapkan diri sebelumnya, dan lekas bertaubat. Tetapi kenyataannya adalah, kita tidak tahu kapan kita akan dipanggil oleh-Nya. Umur bukanlah jaminan lama atau tidaknya kita hidup di dunia yang hanya kita singgahi sebentar ini. Maka dari itu, jika kita bisa mempersiapkan diri lebih baik mulai sekarang, mengapa harus menunggu nanti? Yang utama adalah niat yang kuat. Berhijab karena kecintaan kita kepada Allah, bukan yang lain.
Namun, seperti yang kita ketahui, ada sebagian orang yang salah berniat dalam mengenakan hijab. Apa hasilnya? Kita bicara kenyataan saja. Pernahkah kalian melihat seorang muslimah yang memakai hijab, sebentar dilepas, kemudian dikenakan kembali, dibuka lagi, dan yaa begitu seterusnya. Pernah? Menurut pandangan saya, itu terjadi karena niat mereka yang keliru. Atau mungkin, niatnya tidak sungguh-sungguh. Hati mereka masih goyah. Saya termasuk orang yang seperti itu, dulu. Tidak untuk sekarang! Goyah dalam mengambil keputusan berhijab. Dalam keadaan tertentu saya mengenakan hijab, kemudian keadaan lain, saya melepasnya. Suatu hari, ada satu acara di televisi, sinetron yang biasanya malas untuk menontonnya, tidak sengaja saya lihat. Sinetron islami. Ada kalimat yang benar-benar merasuki hati saya, merubah pola pikir saya, dan merubah niat saya. Dan saat itu pula, saya memantapkan diri, Saya tidak akan goyah lagi!
Seperti yang sudah saya tulis di atas, bahwasannya mengenakan hijab adalah wajib bagi seorang muslimah. Untuk para muslimah yang membaca postingan ini yang belum mengenakan hijab, cobalah untuk memaksakan diri mengenakannya. Allah akan meridhoi apa saja yang dilakukan oleh hambanya, untuk memperbaiki diri, menjadi lebih baik dihadapan-Nya. Dan untuk muslimah yang masih goyah hatinya dalam mengenakan hijab, ubahlah niat kalian. Niatkanlah hijab itu semata-mata karena Sang Pencipta, bukan karena duniawi.

Berhijab bukanlah tanda sudah taat, tapi berhijab adalah langkah awal belajar taat. Bisa saja, setelah menggunakan hijab, kita berubah menjadi lebih baik dalam hal lain. InsyaAllah.... 

Minggu, 05 April 2015

Friendship









Model: Oyonk Hikmah, Ilma Rofi, Galuh
Lokasi: Taman Bungkul Surabaya, Universitas Negeri Surabaya

Sabtu, 28 Februari 2015

Pesan Dalam Flashdisk

                                  
Sore ini terasa begitu kunikmati. Duduk manis di bawah paru-paru dunia, menikmati sejuknya udara di kampung halamanku, pinggiran kota Bandung. Sambil meneguk perlahan-lahan secangkir kopi hitam buatan sendiri, aku teringat akan masa lalu ketika aku masih tinggal di Jogjakarta beberapa tahun lalu.
Bertemu dengan seorang laki-laki, satu angkatan dan satu jurusan, secara tak sengaja, di kantin kampus. Saat aku sedang mencoba menghabiskan mie ayam buatan ibu kantin, kau datang menghampiriku. Kamu, yang ternyata sudah tahu tentang siapa aku, mahasiswi perantauan yang menimba ilmu di kota orang, memperkenalkan diri dan menjabat tanganku. Kemudian dengan santainya kau bercerita panjang lebar tentang tugas kuliahmu kepadaku. Sebagai seorang teman yang baik, haruslah mendengarkan kalimat perkalimat yang kau tiupkan ke telingaku.
Mengenalmu sejak semester 3, tak terasa sudah cukup lama kita kenal satu sama lain, hingga sampai pada tahap tugas akhir sebagai mahasiswa. Menghabiskan waktu bersama, saling membantu menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Aku merasa nyaman saat sedang bersamamu. Kita sudah tidak seperti teman, yang canggung, yang masih menutupi kelebihan bahkan kekurangan masing-masing. Sebagai seorang anak tunggal, aku merasa tidak lagi kesepian tinggal di kota tempatmu dilahirkan dan dibersarkan ini.
Hingga suatu hari, kamu datang ke tempat tinggalku di Jogja, rumah kakak pertama dari Ibuku, yang menikah dengan laki-laki asli dari kota gudeg ini. Datang dengan wajah ditekuk, bak kemeja tidak diseterika, kusut. Kemudian kamu bercerita dengan logat Jogja yang kental, membuatku sedikit bingung dengan bahasa Jawa yang sesekali terselip dalam kalimat yang dikeluarkan olehmu. Bercerita tentang flashdisk-mu yang hilang, beserta file tugas-tugas yang harus dikerjakan, diselesaikan dan harus ditemukan sebelum matahari pagi memancarkan sinarnya. Aku meminjamkan flashdisk-ku untukmu, dan menginap selama beberapa minggu.
Minggu akhir di bulan November tahun itu, setelah aku dan kau berhasil mendapatkan gelar sarjana strata satu, kita diwisuda. Bahagianya aku ketika berhasil menyelasaikan kuliah tepat waktu, lulus bersamamu, orang yang kemudian semakin menjadi istimewa dalam hidupku, dalam hatiku. Ada getaran hati yang seolah berbisik, aku mulai mencintaimu.
Dua minggu setelah wisuda, orang tuaku menyuruhku kembali pulang ke kampung halamanku di Bandung. Aku mencari keberadaanmu sesaat sebelum aku memutuskan untuk berangkat hari itu juga setelah ditelpon oleh Ayahku. Namun aku tak kunjung mendapatkan kejelasan atas dirimu. Mengirim beberapa pesan singkat, menanyai posisimu sekarang berada, tak ada balasan. Menelpon pun, tak ada jawaban.  Aku mendatangi rumahmu, sepi. Tak sempat mengucap kata selamat tinggal kepadamu, tak sempat mengungkapkan perasaan sayang yang terlanjur tumbuh dalam diriku, harus kutinggalkan kota yang penuh kenangan itu.
Satu bulan sudah aku menetap di kota kelahiranku, setelah lama merantau ke kota yang selalu memaksaku untuk kembali kesana. Saat aku sedang menulis cerita di blog, handphone-ku berdering. Tanteku menelpon, dan memberi kabar yang entah menyenangkan atau menyedihkan. Beliau berkata, satu hari setelah aku kembali ke Bandung, ada teman kuliahku datang ke rumahnya, menitipkan sebuah falshdisk berwarna merah. Itu milikku, untukku, darimu. Dan dua hari yang lalu, orang yang sama datang lagi, memberikan sebuah kotak berbungkus kertas kado. Mungkin, ini jawaban atas rasa penasaran, khawatir, dan rinduku, kepada seorang pribumi Jogjakarta keturunan darah biru itu; kamu. Itulah, alasan mengapa aku kembali ke kota Jogja.
Duduk di ruang tamu rumah yang dulu, selama aku kuliah menjadi tempat tinggalku, tanteku memberikan titipan darimu. Aku masih sedikit bingung, flashdisk ini kembali, setelah sekian lama berada di tanganmu. Kupikir, sambil aku beristirahat dan membuka kotak yang terbungkus rapi itu, aku akan mendengarkan lagu-lagu yang ada di flashdisk-ku. Saat ku tancapkan, dan hendak memilih lagu, aku dikejutkan oleh sebuah file berbentuk WordPad. Padahal, seingatku, aku tak pernah meninggalkan sebuah file WordPad di dalam flashdisk-ku. Rasa penasaran dan ingin tahu muncul dalam benakku. Saat kubuka file itu, tertulis namamu. Ada serangkaian kata yang tersusun menjadi sebuah puisi indah penuh makna. Dalam tulisan itu kau mengungkapakan perasaanmu yang mendalam. Beberapa kalimat membuatku meneteskan air mata...
....
Air. Bisakah kau menguras air laut? Seperti itulah cinta tulus ini untukmu, takkan pernah habis.
Tanah. Mampukah engkau menghitung butir-butir tanah yang ada di kota ini? Seperti itulah rasa sayang ini untukmu, tak terhitung seberapa banyak.
Kau akan selalu menjadi udara dalam kehidupanku. Berada didekatku, kurasakan disetiap detiknya, sampai akhir hayatku. Walaupun aku tahu, aku seperti api, yang akan selalu kau jauhi ketika datang mendekatimu.
Dengarlah, duhai gadis yang begitu kucintai. Ini bukan sekedar puisi romantis yang kupersembahkan untukmu. Meski nanti kita tak menyatu di dunia, ku harap engkau menjadi pendampingku di surga. Tak usah menungguku, temukanlah seseorang yang mampu membuatmu bahagia, selain aku.
....
Tak kusangka, kau jauh memiliki perasaan lebih dalam, lebih dulu dari pada aku. Bodohnya, aku tak menyadari setiap kode yang kau coba sampaikan, dulu. Namun, apalah arti dari kalimat yang begitu lembut menyentuh hati, yang baru saja ku baca, setelah aku tahu isi dari kotak berpita yang kau kirim adalah undangan pernikahanmu dengan gadis lain yang sudah dijodohkan oleh keluargamu yang juga keturunan ningrat. Ku usap air mata yang membasahi kedua pipiku, saat itu, saat setelah mengerti dan mencoba memahami posisimu, yang kuanggap mungkin adalah posisi tersulit dalam hidupmu.

Kamis, 01 Januari 2015

Pencapaian Tahun Ini

Terkadang memang, dunia tak selalu berpihak pada kita. Saat realita hidup ini tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan dan impikan, saat itu lah kita dituntut untuk benar-benar ikhlas menerima kenyataan yang ada. Jangan menjadi seseorang yang maunya hanya memilih. Egois. Kenyataan manis maupun pahit haruslah kita telan. 
Di tahun 2014 ini, tahun dimana aku mengubah status pelajarku, dari siswa menjadi mahasiswa. Bukan hal mudah untuk menambahkan kata 'maha' didepan kata 'siswa', butuh bertahun-tahun lamanya. Dan aku tahu, ini bukan hal mudah untuk dijalani. Pasti akan ada fase dimana aku akan menginjak kerikil-kerikil kecil, hingga akhirnya aku tersandung batu. Saat itu, aku hanya punya dua pilihan. Diam saja, menunggu bantuan datang yang entah sampai kapan, ataukah berdiri dan terus berusaha bangkit walau sakit.

Mimpiku adalah menjadi seorang Arsitek. Hobiku menggambar, mendesain, dan senang berimajinasi lewat seni rupa. Tekadku bulat, aku akan kuliah di Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya. Tapi, orang tuaku tidak setuju bila aku kuliah di luar kota. Banyak pertimbangan yang disampaikan mereka kepadaku. Diantaranya, kami memang sangat terkendala dengan biaya. Biaya kuliah, biaya hidup karena jauh dari orang tua. Sempat aku memaksa kepada mereka untuk mengizinkan aku menimba ilmu arsitektur disana. Aku berjanji kepada mereka, seandainya nanti aku diterima di ITS lewat jalur tanpa tes ini, aku akan berusaha untuk mendapatkan beasiswa. Hingga akhirnya aku diizinkan, dengan pernyataan sang Ayah yang cukup membebaniku, "Kalau kamu siap mengambil resiko, Ayah izinkan". Tidak ada tindakan yang terlaksana tanpa ada kemungkinan terjadinya resiko. Aku siap dengan keputusanku, dan aku siap dengan resikonya.
Hari semakin dekat dengan pengumuman hasil seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri. Saat itu aku mulai pesimis dengan pilihanku. Aku mulai takut dengan apa yang menjadi keputusanku beberapa bulan lalu. Hingga tiba hari dimana pengumuman itu keluar, aku dinyatakan tidak lolos seleksi jalur tanpa tes tersebut. Bagaikan terjatuh ke ladang kaktus. Sakit sekali. Tapi aku kembali ke janjiku dulu, bahwa aku sudah siap menerima resiko yang akan ku terima atas keputusanku. Aku berusaha memantapkan hatiku, ini bukanlah akhir. Perjalanan masih jauh, dan aku akan bangkit. Mencari titik awal perjuanganku menimba ilmu. Ikhlas tetap menjadi kunci utama yang ku tanam di dalam hati dan pikiranku.
Seleksi jalur tes tulis dibuka, aku mendaftar di Universitas Trunojoyo Madura, satu-satunya perguruan tinggi negeri yang ada di pulau kecil di sebrang Jawa ini. Akhirnya tertulis namaku bahwa aku dinyatakan lolos seleksi dan diterima dijurusan teknik informatika. Satu dari sekian banyak mimpi yang kugantungkan dalam angan-angan, selain menjadi seorang arsitek, adalah menjadi seorang programer, dengan tujuan bisa mengubah negara tercintaku ini menjadi lebih maju. Dan, ya! Kudapatkan kesimpulan untuk tahun yang penuh cerita ini. Saat jatuh, bukan berarti kita tidak bisa bangkit lagi. Kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan kita menjadi sukses. Justru itu merupakan langkah awal kita untuk meraih titik yang lebih baik dari sebelumnya. Bila jatuh, bangun lagi. Bila gagal, coba lagi. Kata kebanyakan orang, dimana ada kemauan disitu pasti ada jalan. Namun apabila kita menyerah, dalam arti tidak bangun, tidak bangkit, tidak mencari cara lain saat gagal untuk terus berjuang, saat itulah semuanya akan berakhir. Impian kita akan hilang.
Pencapaianku tahun ini, bisa kuliah di perguruan tinggi nasional yang pernah membawa nama Indonesia harum ditingkat dunia, dengan gelar juara II di Rusia, menjadi suatu kebanggan tersendiri. Dan takdirku untuk menimba ilmu disini, tidak jauh dari restu Allah SWT serta kedua orang tua, yang sangat ku sayangi. Ini bukan soal nasib,  keberuntungan maupun kebetulan. Ini adalah takdir yang sudah dituliskan oleh sang Maha Pencipta.

Text Widget

Text Widget

Popular Posts

Pages

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Unordered List

Followers

Recent Posts