Sabtu, 28 Februari 2015

Pesan Dalam Flashdisk

                                  
Sore ini terasa begitu kunikmati. Duduk manis di bawah paru-paru dunia, menikmati sejuknya udara di kampung halamanku, pinggiran kota Bandung. Sambil meneguk perlahan-lahan secangkir kopi hitam buatan sendiri, aku teringat akan masa lalu ketika aku masih tinggal di Jogjakarta beberapa tahun lalu.
Bertemu dengan seorang laki-laki, satu angkatan dan satu jurusan, secara tak sengaja, di kantin kampus. Saat aku sedang mencoba menghabiskan mie ayam buatan ibu kantin, kau datang menghampiriku. Kamu, yang ternyata sudah tahu tentang siapa aku, mahasiswi perantauan yang menimba ilmu di kota orang, memperkenalkan diri dan menjabat tanganku. Kemudian dengan santainya kau bercerita panjang lebar tentang tugas kuliahmu kepadaku. Sebagai seorang teman yang baik, haruslah mendengarkan kalimat perkalimat yang kau tiupkan ke telingaku.
Mengenalmu sejak semester 3, tak terasa sudah cukup lama kita kenal satu sama lain, hingga sampai pada tahap tugas akhir sebagai mahasiswa. Menghabiskan waktu bersama, saling membantu menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Aku merasa nyaman saat sedang bersamamu. Kita sudah tidak seperti teman, yang canggung, yang masih menutupi kelebihan bahkan kekurangan masing-masing. Sebagai seorang anak tunggal, aku merasa tidak lagi kesepian tinggal di kota tempatmu dilahirkan dan dibersarkan ini.
Hingga suatu hari, kamu datang ke tempat tinggalku di Jogja, rumah kakak pertama dari Ibuku, yang menikah dengan laki-laki asli dari kota gudeg ini. Datang dengan wajah ditekuk, bak kemeja tidak diseterika, kusut. Kemudian kamu bercerita dengan logat Jogja yang kental, membuatku sedikit bingung dengan bahasa Jawa yang sesekali terselip dalam kalimat yang dikeluarkan olehmu. Bercerita tentang flashdisk-mu yang hilang, beserta file tugas-tugas yang harus dikerjakan, diselesaikan dan harus ditemukan sebelum matahari pagi memancarkan sinarnya. Aku meminjamkan flashdisk-ku untukmu, dan menginap selama beberapa minggu.
Minggu akhir di bulan November tahun itu, setelah aku dan kau berhasil mendapatkan gelar sarjana strata satu, kita diwisuda. Bahagianya aku ketika berhasil menyelasaikan kuliah tepat waktu, lulus bersamamu, orang yang kemudian semakin menjadi istimewa dalam hidupku, dalam hatiku. Ada getaran hati yang seolah berbisik, aku mulai mencintaimu.
Dua minggu setelah wisuda, orang tuaku menyuruhku kembali pulang ke kampung halamanku di Bandung. Aku mencari keberadaanmu sesaat sebelum aku memutuskan untuk berangkat hari itu juga setelah ditelpon oleh Ayahku. Namun aku tak kunjung mendapatkan kejelasan atas dirimu. Mengirim beberapa pesan singkat, menanyai posisimu sekarang berada, tak ada balasan. Menelpon pun, tak ada jawaban.  Aku mendatangi rumahmu, sepi. Tak sempat mengucap kata selamat tinggal kepadamu, tak sempat mengungkapkan perasaan sayang yang terlanjur tumbuh dalam diriku, harus kutinggalkan kota yang penuh kenangan itu.
Satu bulan sudah aku menetap di kota kelahiranku, setelah lama merantau ke kota yang selalu memaksaku untuk kembali kesana. Saat aku sedang menulis cerita di blog, handphone-ku berdering. Tanteku menelpon, dan memberi kabar yang entah menyenangkan atau menyedihkan. Beliau berkata, satu hari setelah aku kembali ke Bandung, ada teman kuliahku datang ke rumahnya, menitipkan sebuah falshdisk berwarna merah. Itu milikku, untukku, darimu. Dan dua hari yang lalu, orang yang sama datang lagi, memberikan sebuah kotak berbungkus kertas kado. Mungkin, ini jawaban atas rasa penasaran, khawatir, dan rinduku, kepada seorang pribumi Jogjakarta keturunan darah biru itu; kamu. Itulah, alasan mengapa aku kembali ke kota Jogja.
Duduk di ruang tamu rumah yang dulu, selama aku kuliah menjadi tempat tinggalku, tanteku memberikan titipan darimu. Aku masih sedikit bingung, flashdisk ini kembali, setelah sekian lama berada di tanganmu. Kupikir, sambil aku beristirahat dan membuka kotak yang terbungkus rapi itu, aku akan mendengarkan lagu-lagu yang ada di flashdisk-ku. Saat ku tancapkan, dan hendak memilih lagu, aku dikejutkan oleh sebuah file berbentuk WordPad. Padahal, seingatku, aku tak pernah meninggalkan sebuah file WordPad di dalam flashdisk-ku. Rasa penasaran dan ingin tahu muncul dalam benakku. Saat kubuka file itu, tertulis namamu. Ada serangkaian kata yang tersusun menjadi sebuah puisi indah penuh makna. Dalam tulisan itu kau mengungkapakan perasaanmu yang mendalam. Beberapa kalimat membuatku meneteskan air mata...
....
Air. Bisakah kau menguras air laut? Seperti itulah cinta tulus ini untukmu, takkan pernah habis.
Tanah. Mampukah engkau menghitung butir-butir tanah yang ada di kota ini? Seperti itulah rasa sayang ini untukmu, tak terhitung seberapa banyak.
Kau akan selalu menjadi udara dalam kehidupanku. Berada didekatku, kurasakan disetiap detiknya, sampai akhir hayatku. Walaupun aku tahu, aku seperti api, yang akan selalu kau jauhi ketika datang mendekatimu.
Dengarlah, duhai gadis yang begitu kucintai. Ini bukan sekedar puisi romantis yang kupersembahkan untukmu. Meski nanti kita tak menyatu di dunia, ku harap engkau menjadi pendampingku di surga. Tak usah menungguku, temukanlah seseorang yang mampu membuatmu bahagia, selain aku.
....
Tak kusangka, kau jauh memiliki perasaan lebih dalam, lebih dulu dari pada aku. Bodohnya, aku tak menyadari setiap kode yang kau coba sampaikan, dulu. Namun, apalah arti dari kalimat yang begitu lembut menyentuh hati, yang baru saja ku baca, setelah aku tahu isi dari kotak berpita yang kau kirim adalah undangan pernikahanmu dengan gadis lain yang sudah dijodohkan oleh keluargamu yang juga keturunan ningrat. Ku usap air mata yang membasahi kedua pipiku, saat itu, saat setelah mengerti dan mencoba memahami posisimu, yang kuanggap mungkin adalah posisi tersulit dalam hidupmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Text Widget

Text Widget

Popular Posts

Pages

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Unordered List

Followers

Recent Posts