
Sore ini terasa begitu
kunikmati. Duduk manis di bawah paru-paru dunia, menikmati sejuknya udara di
kampung halamanku, pinggiran kota Bandung. Sambil meneguk perlahan-lahan
secangkir kopi hitam buatan sendiri, aku teringat akan masa lalu ketika aku
masih tinggal di Jogjakarta beberapa tahun lalu.
Bertemu dengan seorang
laki-laki, satu angkatan dan satu jurusan, secara tak sengaja, di kantin
kampus. Saat aku sedang mencoba menghabiskan mie ayam buatan ibu kantin, kau
datang menghampiriku. Kamu, yang ternyata sudah tahu tentang siapa aku,
mahasiswi perantauan yang menimba ilmu di kota orang, memperkenalkan diri dan
menjabat tanganku. Kemudian dengan santainya kau bercerita panjang lebar
tentang tugas kuliahmu kepadaku. Sebagai seorang teman yang baik, haruslah
mendengarkan kalimat perkalimat yang kau tiupkan ke telingaku.
Mengenalmu sejak
semester 3, tak terasa sudah cukup lama kita kenal satu sama lain, hingga
sampai pada tahap tugas akhir sebagai mahasiswa. Menghabiskan waktu bersama,
saling membantu menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Aku merasa nyaman saat sedang
bersamamu. Kita sudah tidak seperti teman, yang canggung, yang masih menutupi
kelebihan bahkan kekurangan masing-masing. Sebagai seorang anak tunggal, aku
merasa tidak lagi kesepian tinggal di kota tempatmu dilahirkan dan dibersarkan
ini.
Hingga suatu hari, kamu
datang ke tempat tinggalku di Jogja, rumah kakak pertama dari Ibuku, yang
menikah dengan laki-laki asli dari kota gudeg ini. Datang dengan wajah ditekuk,
bak kemeja tidak diseterika, kusut. Kemudian kamu bercerita dengan logat Jogja
yang kental, membuatku sedikit bingung dengan bahasa Jawa yang sesekali
terselip dalam kalimat yang dikeluarkan olehmu. Bercerita tentang flashdisk-mu yang hilang, beserta file tugas-tugas yang harus dikerjakan,
diselesaikan dan harus ditemukan sebelum matahari pagi memancarkan sinarnya.
Aku meminjamkan flashdisk-ku untukmu,
dan menginap selama beberapa minggu.
Minggu akhir di bulan
November tahun itu, setelah aku dan kau berhasil mendapatkan gelar sarjana
strata satu, kita diwisuda. Bahagianya aku ketika berhasil menyelasaikan kuliah
tepat waktu, lulus bersamamu, orang yang kemudian semakin menjadi istimewa
dalam hidupku, dalam hatiku. Ada getaran hati yang seolah berbisik, aku mulai
mencintaimu.
Dua minggu setelah
wisuda, orang tuaku menyuruhku kembali pulang ke kampung halamanku di Bandung. Aku
mencari keberadaanmu sesaat sebelum aku memutuskan untuk berangkat hari itu
juga setelah ditelpon oleh Ayahku. Namun aku tak kunjung mendapatkan kejelasan
atas dirimu. Mengirim beberapa pesan singkat, menanyai posisimu sekarang
berada, tak ada balasan. Menelpon pun, tak ada jawaban. Aku mendatangi rumahmu, sepi. Tak sempat
mengucap kata selamat tinggal kepadamu, tak sempat mengungkapkan perasaan
sayang yang terlanjur tumbuh dalam diriku, harus kutinggalkan kota yang penuh
kenangan itu.
Satu bulan sudah aku
menetap di kota kelahiranku, setelah lama merantau ke kota yang selalu
memaksaku untuk kembali kesana. Saat aku sedang menulis cerita di blog, handphone-ku berdering. Tanteku
menelpon, dan memberi kabar yang entah menyenangkan atau menyedihkan. Beliau berkata,
satu hari setelah aku kembali ke Bandung, ada teman kuliahku datang ke
rumahnya, menitipkan sebuah falshdisk
berwarna merah. Itu milikku, untukku, darimu. Dan dua hari yang lalu, orang
yang sama datang lagi, memberikan sebuah kotak berbungkus kertas kado. Mungkin,
ini jawaban atas rasa penasaran, khawatir, dan rinduku, kepada seorang pribumi
Jogjakarta keturunan darah biru itu; kamu. Itulah, alasan mengapa aku kembali
ke kota Jogja.
Duduk di ruang tamu
rumah yang dulu, selama aku kuliah menjadi tempat tinggalku, tanteku memberikan
titipan darimu. Aku masih sedikit bingung, flashdisk
ini kembali, setelah sekian lama berada di tanganmu. Kupikir, sambil aku
beristirahat dan membuka kotak yang terbungkus rapi itu, aku akan mendengarkan
lagu-lagu yang ada di flashdisk-ku.
Saat ku tancapkan, dan hendak memilih lagu, aku dikejutkan oleh sebuah file berbentuk WordPad. Padahal, seingatku, aku tak pernah meninggalkan sebuah
file WordPad di dalam flashdisk-ku. Rasa penasaran dan ingin
tahu muncul dalam benakku. Saat kubuka file
itu, tertulis namamu. Ada serangkaian kata yang tersusun menjadi sebuah
puisi indah penuh makna. Dalam tulisan itu kau mengungkapakan perasaanmu yang
mendalam. Beberapa kalimat membuatku meneteskan air mata...
....
Air. Bisakah kau menguras air laut?
Seperti itulah cinta tulus ini untukmu, takkan pernah habis.
Tanah. Mampukah engkau menghitung
butir-butir tanah yang ada di kota ini? Seperti itulah rasa sayang ini untukmu,
tak terhitung seberapa banyak.
Kau akan selalu menjadi udara dalam kehidupanku.
Berada didekatku, kurasakan disetiap detiknya, sampai akhir hayatku. Walaupun
aku tahu, aku seperti api, yang akan selalu kau jauhi ketika datang
mendekatimu.
Dengarlah, duhai gadis yang begitu
kucintai. Ini bukan sekedar puisi romantis yang kupersembahkan untukmu. Meski
nanti kita tak menyatu di dunia, ku harap engkau menjadi pendampingku di surga.
Tak usah menungguku, temukanlah seseorang yang mampu membuatmu bahagia, selain
aku.
....
Tak kusangka, kau jauh
memiliki perasaan lebih dalam, lebih dulu dari pada aku. Bodohnya, aku tak
menyadari setiap kode yang kau coba sampaikan, dulu. Namun, apalah arti dari
kalimat yang begitu lembut menyentuh hati, yang baru saja ku baca, setelah aku
tahu isi dari kotak berpita yang kau kirim adalah undangan pernikahanmu dengan
gadis lain yang sudah dijodohkan oleh keluargamu yang juga keturunan ningrat.
Ku usap air mata yang membasahi kedua pipiku, saat itu, saat setelah mengerti
dan mencoba memahami posisimu, yang kuanggap mungkin adalah posisi tersulit
dalam hidupmu.