Jumat, 28 Agustus 2015

I’ll be back, someday!


Selamat siang! Kenapa siang? Karena saya menulis ini pada saat laki-laki muslim sedang berbondong-bondong pergi ke masjid, untuk melaksanakan kewajiban mereka, sholat Jum’at. Walaupun sebenarnya, tidak ada hubungan antara menulis siang, sholat Jum’at dan isi cerita di bawah._.
Baiklah, kali ini saya akan menceritakan tentang menghabiskan dua minggu pada liburan semester untuk merantau ke kota orang. Selama 14 hari saya mengisi kekosongan itu dengan menambah, mengasah ilmu dibidang bahasa Inggris. Jujur saja, saya tidak terlalu bisa berbahasa Inggris, tidak terlalu suka juga tak benci dengannya. Biasa-biasa saja. Namun kemudian saya berpikir tentang bahasa internasional yang diakui oleh dunia ini. Jika saya tidak begitu paham dan tidak terbiasa mengaplikasikannya dalam kehidupan, saya akan kesulitan untuk berinteraksi dengan orang asing.  (Ng.... orang asing maksudnya disini itu bule ya, bukan alien-_-) .Mungkin juga akan mempersulit dalam dunia kerja nantinya. Nah, itulah alasan dibalik mengapa saya harus paham bahasa Inggris.
Sedikit cerita tentang Desa Tulungrejo yang terletak di Pare, Jawa Timur. Orang-orang mengenalnya dengan sebutan Kampung Inggris, karena banyaknya lembaga kursus berbahasa Inggris. Walaupun ada pula kursus bahasa asing lainnya, seperti bahasa Arab dan Mandarin, meski memang tak sebanyak bahasa Inggris. Bahkan ada beberapa penjual makanan dan buah yang berinteraksi dengan pembelinya menggunakan bahasa Inggris. Masyarakat yang ada disini pun kebanyakan adalah pendatang, perantau dari berbagai kota dan pulau di Indonesia. Sungguh, desa yang menakjubkan!
Berangkat dan tiba di Pare pada tanggal 26 Juli 2015. Saya, keluarga yang mengantar serta dua orang teman saya datang menemui pegawai di lembaga kursus yang sudah kami pilih sebelumnya, Universal English. Setelah melakukan daftar ulang, kami diantar menuju asrama putri yang jaraknya tak begitu jauh dari office. Di asrama, banyak tertulis kalimat-kalimat yang mengharuskan kami, para penghuni asrama menggunakan bahasa Inggris dalam keadaan apapun. Jika tidak, akan dikenakan denda Rp. 500 per kata, setelah masa adaptasi tanpa punishment tiga hari.
Hari pertama, ternyata saya dan dua orang teman saya dari Bangkalan, salah masuk kelas! Ternyata kami salah daftar. Sebenarnya kami memilih kelas speaking, namun salah klik daftar ke kelas TOEFL. Kami pun berusaha, bernegosiasi dengan pegawai di office agar bisa dipindahkan ke kelas speaking. Setelah berkonsultasi dengan salah satu tutor, yang tinggal di asrama putri, kami bertiga diizinkan pindah ke kelas speaking di hari kedua nantinya.
Waktu berjalan dan terus berganti. Walaupun lelah dirasa, mulai pukul 5 pagi hingga 8 malam, tugas-tugas yang selalu menghantui itu cukup terbayar dengan ilmu dan pengetahuan baru, pengalaman, serta teman baru. Ada yang dari Blitar, Tulungagung, Mojokerto, Probolinggo, Cirebon, Lamongan, Malang, Cilegon, Jakarta, Bandung, Pontianak, Medan, Ternate, Toraja, dan mungkin masih banyak lagi dari teman-teman Universal English yang datang dari kejauhan.
Dua minggu sudah berlalu, 8 Agustus 2015 waktunya kembali ke tanah Madura. Pare dan semua momen-momennya membuat saya benar-benar terkesan, walau hanya dua minggu berada disana. Membuat saya ingin kembali kesana, menikmati udara dingin yang menyapa lembut tubuh ini tiap pagi dan malam. Bulan dan matahari tampak begitu besar nan indah, berhasil menarik perhatian saya. Metode pembelajaran dan suasananya mendukung untuk terbiasa berbahasa Inggris. Karena menurut saya, memang pada dasarnya bahasa adalah kebiasaan.

Semoga saya diberi kesempatan lagi untuk kembali ke Pare, belajar bahasa Inggris, mendapat teman baru, mendapat pengalaman, pelajaran dan momen-momen indah tak terlupakan.


Text Widget

Text Widget

Popular Posts

Pages

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Unordered List

Followers

Recent Posts