Empat huruf
satu kata, yang sangat menarik untuk dibahas. Jangan sampai salah mengartikan
kata di atas, ya. Seperti dizaman sekarang ini, banyak yang mengatasnamakan
cinta dalam hubungan ‘pacaran’. Padahal mereka yang sedang menjalin hubungan
seperti itu tidak benar-benar menjalaninya berdasarkan perasaan cinta. Apa yang
mereka maksud cinta disini hanyalah hawa nafsu yang dipengaruhi oleh setan,
yang ingin menjerumuskan manusia ke dalam perzinaan. Sudah jelas dikatakan
dalam Al-Qur’an surat Al-Isra’ ayat 32 yang artinya “Dan janganlah kamu
mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan
suatu jalan yang buruk.”. Jika seorang laki-laki benar-benar mencintai seorang
perempuan, ia tak akan mungkin mengajak ke jalan yang buruk lagi sesat alias
pacaran.
Pacaran islami?
Pacaran agar ada yang mengingatkan untuk tidak melupakan sholat dan mengaji?
Tidak ada toleransi untuk itu. Sesungguhnya, sholat itu menjauhkan kita dari perbuatan
maksiat. Sholat jalan tetapi maksiat tetap jalan? Coba dicek dan renungkan,
sudah benarkah niat sholatnya? Adakah yang bangga punya pacar yang rajin
mengaji? Apakah yang seperti itu bisa dikatakan sholeh atau sholehah? Coba
tanyakan, sudah sampaikah pada firman Allah SWT dalam Al-Qur’an tentang
larangan mendekati zina? Ada lagi, pacaran tapi tidak pernah bersentuhan? Yang
namanya pacaran tetap saja pacaran dan tetap dinamakan zina! Mengapa? Karena
mengetik pesan alias sms-an, pasti juga sedang memikirkan sesuatu yang sedang
ditulisnya dan menimbulkan syahwat. Seperti yang sudah dijelaskan dalam
Al-Qur’an, “Janganlah kamu mendekati zina ...”. Medekati zina saja sudah
dilarang oleh Allah, apalagi menjalaninya?
Laki-laki yang
tahu ilmu agama akan memuliakan dan menghormati permpuan. Ia tak akan
menjatuhkan martabatmu sebagai perempuan dengan mengajak ke jalan yang sama
sekali tidak diridhoi oleh Allah. Laki-laki yang benar-benar mencintai seorang
perempuan adalah ia yang datang menemui Ayah atau walinya. Meminta izin kepada
Ayahnya sebagai pemilik anak perempuannya di dunia ini, untuk menjalankan salah
satu sunnah Rasul bersama-sama. Karena sesungguhnya, mencintai sesorang
perempuan menurut islam sama sekali bukan dengan jalan mengajaknya untuk berpacaran,
melainkan dengan cara menjauhi orang yang dicintai, dan kemudian temui walinya.
Laki-laki yang benar mencintai seorang perempuan akan mengajak bersama-sama terus
berada di jalan-Nya. Menjadikan pernikahan sebagai tujuannya, bukan malah
pacaran! Rasa cintanya ia buktikan dengan mengajaknya menikah. Belum siap? Ini
sabda Rasulullah SAW, “Jika ada seorang laki-laki mencintai seorang perempuan,
maka melamarnya untuk dijadikan istri merupakan bentuk dari pembuktian
cintanya. Jika menyukai, segera nikahi. Tetapi kalau belum mampu, maka
berpuasalah, yaitu kendalikan nafsu dan cintai dalam diam. Itu semua demi
menjaga kesucian diri sendiri dan kesucian dia yang dicintai.”.
Cinta itu
seharusnya menguatkan, bukan melemahkan. Cinta itu seharusnya menghormati,
bukan menjatuhkan. Cinta itu seharusnya menjaga, bukan menjerumuskan.
Jangan sedih
karena status jomblo yang dibuat-buat oleh manusia. Itu hanya sementara. Jadilah
jomblo yang berkualitas, dengan memperbaiki akhlak dan terus menerus jihad di
jalan Allah. Karena sesungguhnya, jihad yang paling utama adalah jihad
seseorang melawan hawa nafsunya. Jangan sampai terjerumus dan ingin ikut-ikutan
tradisi pacaran yang mengatasnamakan cinta selama menjalaninya. Naudzubillah.
Seperti yang
disabdakan oleh Rasulullah SAW, “... cintai dalam diam ...”. Maka jika belum
siap, cintailah ia dalam diammu. Cinta ia dengan cara mendoakan. Karena hanya
diam dan mendoakanlah cara mencintai seseorang, dengan tetap menjaga kesucian diantara
keduanya. Jangan takut dia yang kita cintai diambil orang lain hanya karena
kita tidak mengutarakan perasaan cinta kita terhadapnya. Semuanya telah
tertulis rapi di lauhul mahfudz. Allah sudah menyiapkan jodoh untuk kita. Dan
jodoh dari Allah tak akan mungkin tertukar dengan orang lain. Ketahuilah, dalam
surat An-Nur ayat 26, “Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji,
dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula). Sedangkan
perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang
baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula) ....”. Jadi, mana mungkin jodoh
kita tertukar?
Jika engkau,
laki-laki maupun perempuan, ingin mencari suami yang sholeh dan istri yang
sholehah, bukan dengan mengenalnya lebih dahulu, kemudian kau bisa menentukan
dirinya yang ingin kau jadikan pasangan, sholeh atau tidak, sholehah atau tidak,
dan pantas atau tidak. Karena sesungguhnya, ia yang sholeh dan sholehah tidak
akan mau diajak dalam lingkaran pacaran yang sudah jelas haram hukumnya dalam
islam.
Cinta adalah
engkau ingin hidup bersamanya di surga, karena keberadaan kamu berdua bersama
di dunia tidaklah cukup.
Yang terpenting
adalah jangan sampai kita terlalu mencintai makhluk-Nya dibandingkan
pencipta-Nya. Dalam surat At-Taubat ayat 24 memperingatkan kita untuk tetap
menjadikan Allah SWT dan Rasul-Nya yang paling kita cintai diatas segalanya.
Karena jika tidak, Allah akan mendatangkan azab/siksaan-Nya. Jadi, cintai ia
sewajarnya saja, jangan berlebih. Karena sesuatu yang berlebihan itu tidak
baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar