Duduk santai di sudut ruang belajarku di sekolah menengah atas, pagi ini terasa sangat indah, walaupun aku tahu, pagi ini sang awan di kota tempatku dibesarkan sedang bersedih, dan mungkin akan menangis. Sambil mengeluarkan secarik kertas dan kayu kecil panjang yang sudah ku kerat selancip mungkin tadi malam, pensil ini membawa jemariku untuk menuliskan sesuatu. Ku tengok keluar kayu yang membingkai kaca bening di samping tempat dudukku, dan berfikir tentang apa yang akan ku tulis di pagi ini. Saat angin mendung menyapaku, sesuatu terbesit dalam otakku. Ardy. Dan aku mulai menuliskan empat huruf tersebut di atas kertas putih itu, dan akan ku letakkan dalam binder kesayanganku.
“Eh, Put, ngapain?”, suara kecil itu
mampir di telinga yang tertutup kerudung ini.
“Menurutmu, apakah aku terlihat seperti
seseorang yang sedang bernyanyi?”, jawabku sedikit kesal karena Siska memecah
konsentrasiku.
“Maafkan aku, Put. Aku ga ada maksud
ganggu kok”.
Aku hanya terdiam dan kembali menatap
satu lembar kertas yang ada di depanku.
“A-R-D-Y. Oh, itu laki-laki yang
berhasil mengubah hidupmu menjadi lebih ceria? Aku yakin, pasti dia orang baik”.
Tiba-tiba tanganku berhenti
meliuk-liukkan pensil, dan menoleh kepada temanku yang satu-satunya berkacamata
di kelas kecil ini, dan aku bertanya,“benarkah?”. Siska tersenyum sambil
menganggukkan kepalanya. Dan aku berharap, semoga pilihanku ini tidak salah,
menjadikannya seseorang yang pantas aku sayangi.
Jam sekolah usai, aku bergegas pulang ke
rumah, karena tidak ingin melalaikan amanat dari guru, pulang sekolah langsung pulang ke rumah masing-masing, ya, Nak!.
Saat perjalanan menuju tempat parkir sepeda motor, tiba-tiba ada sesuatu yang
bergetar dari dalam tas ranselku. Ada pesan baru darinya.
“Selamat siang, dek, udah pulang
sekolah, kan?”, pesan singkat yang menggetarkan jiwa ini.
“Udah kok, ini lagi di parkiran kak, mau
ambil motor terus balik ke rumah. Kamu?”.
“Iya, ini juga udah mau selesai
kelasnya”.
“iya, ada bimbingan belajar, kan?
Belajar yang bener, yah”.
“pasti dong. Kamu hati-hati, ya”.
Benar-benar laki-laki yang bisa
mendinginkan hati dan pikiran ini. Aku mencintainya.
Tak terasa, hari demi hari telah kami
lalui bersama. Menghabiskan waktu luang dengan orang-orang yang dicintai,
memang tak terasa lama. Sakit ini benar-benar tak terasa menggerogoti sisa-sisa
umurku. Dan tak terasa, ini sudah satu bulan terakhir aku tak bertemu dengan
orang penting yang mengenakan jas putih, di gedung bertingkat berbau obat itu.
Siang yang cukup mendung dan membuatku
malas untuk beranjak dari tempat tidur yang sangat empuk ini. Tapi aku bisa
apa, saat papa sudah memanaskan mesin mobilnya dan siap untuk membawaku keluar
dari rumah ini.
“Putri, ayo. Papa tunggu di depan, ya”,
teriakkan papa terdengar saat aku sedang sibuk mencari jaket.
“Iya, Pa, bentar. Putri lagi nyari jaket”,
jawabku.
Dalam hitungan detik akhirnya aku
menemukan kain yang akan ku pakai untuk menyelimuti tubuh kurusku ini, dan
bergegas lari menuju halaman rumah, karena aku tak ingin membuat sosok yang
selalu ada untukku itu menunggu terlalu lama. Dengan wibawanya, papa
mengantarku sampai rumah sakit.
Menunggu panggilan memang membosankan.
Duduk di kursi yang dingin ini lagi, menunggu sekian menit, kadang sampai
sekian jam. Dengan Papa, aku ditemani. Sambil merangkulku, Papa tiba-tiba
tersenyum.
“Kenapa, Pa?”, tanyaku bingung.
Papa hanya menggelengkan kepalanya, tak
menjawab tanya singkatku, seolah pertanyaanku tidak penting untuk dijawab.
Mulutku tak berhenti bernyanyi lagu, apa saja, yang spontan keluar. Lalu,
handphoneku tiba-tiba berdering, memecah konsentrasiku yang sedang konser
tunggal. Ardy.
“Siapa, Put? Diangkat dulu, mungkin
penting”, kata Papa.
“iya, Pa”.
Ku angkat telpon dari Ardy, dan beranjak
meninggalkan papa yang sedang duduk bersebelahan dengan pasien lain.
“iya? Ada apa?”, tanyaku singkat,
“Put, doakan aku sukses ya, manggung
sore ini. Sekarang lagi check sound”.
“aku selalu mendoakan yang terbaik buat
kamu dan teman-temanmu”.
“kamu lagi dimana, Put?”.
Seketika keringat dingin keluar dari
tubuhku. Rasanya mulut ini kaku untuk berkata sejujurnya. Di dalam hati aku
berkata, maafkan aku Ardy.
“aku lagi di kantor papa, pengen main
kesini hehehe”.
“oh pantes aja kok agak sepi gitu.
Biasanya kalo di rumah jam segini kan kamu lagi sibuk nonton tv”, jelasnya
sambil tertawa.
“yaudah, Ar, aku dipanggil papa nih.
Sukses yaa festivalnya”.
Akhir pekan, dibulan kedua kedekatanku
dengan kak Ardy. Tak ada tanda-tanda kejelasan dari hubungan kami yang kian
dekat ini. Terkadang aku berfikir, apakah aku hanya dijadikan pelarian olehnya?
Apakah ini hanya modus belaka? Oh Tuhan, ini benar-benar mengganggu pikiranku.
Dan terkadang aku juga berfikir, apakah harus aku yang memulai?
Jumat siang, sekitar pukul sebelas saat
aku harus pergi ke sebuah toko milik orang cina, yang menjual kertas untuk isi
binderku yang sudah habis kuisi dengan tulisan-tulisan dan gambar-gambar, aku
merasakan ada dia di dekat sini. Semakin aku mencoba mengabaikan pikiran yang
membuatku gelisah ini, pikiran ini semakin tidak karuan.
Seorang anak perempuan, anak pemilik
toko ini memberikan sebendel kertas putih yang kutunjuk barusan. Tak sengaja
aku memperhatikan wajah anak perempuan yang ada di depanku, yang sedang
menghitung habis berapa belanjaanku. Semakin lama, semakin ku kenali wajahnya.
Rasanya tidak asing ku lihat. Tiba-tiba...
“Kak? Kenapa ngeliatin aku gitu banget?
Ada yang aneh?”, tanya si gadis cina berkalung salib ini padaku.
Ku balas dengan senyum malu sekaligus
bingung.
“Hehe engga, dek. Cuma kok wajahmu ngga
asing diliat gitu”.
“Yaelah, kak. Aku kira ada yang aneh. Biasanya
kan mama yang jaga toko, mama lagi sibuk di dapur kak, jadi aku gantiin mama
dulu”.
“Oh iya, ya. Pantes aja wajahmu ngga
asing, ternyata mirip mamamu hahaha”, tawaku memecah suasana bingung tadi.
Sesampainya di rumah, setelah cukup lama
berpanas ria tadi, ternyata ada Siska di ruang tamuku.
“Loh, Siska. Kok ngga bilang dulu kalau
mau main kesini?”.
“Mampir aja, Put. Tadi abis dari
minimarket di depan. Eh iya, gimana sama kak Ardy? Masih digantungin?”.
Pertanyaan Siska membuatku teringat
kembali dengan sosok laki-laki yang namanya sering ku tulis di binder
kesayanganku itu. Aku hanya menganggukkan kepalaku dengan ekspresi wajah
pasrah.
“Dia pasti punnya alasan kok, Put,
kenapa dia gantungin kamu”.
Mendengar Siska menasihatiku, aku
berfikir. Sambil memeluk bantal kursi, aku berkata dan meyakinkan diriku
sendiri di dalam hati, mungkin dia takut nantinya akan melukaiku, mungkin dia
masih belum menemukan waktu yang tepat untuk memberiku kepastian atas semua
rasa nyaman yang selama ini dia beri kepadaku.
“eh, Put. Udah hampir jam dua belas, ya.
Aku ke gereja dulu ya, ada pelajaran agama”, Siska menghancurkan lamunanku.
Setelah aku menganggukkan kepalaku yang
mulai terasa pusing karena sudah waktunya jam makan siang, sahabatku yang
menganut agama kristen ini bergegas keluar dari rumahku. Dan aku pun beranjak
menuju ruang makan, mencari sesuatu yang bisa membuat perut ini terisi.
Tak terasa ini sudah bulan Desember,
memasuki bulan ketiga. Masih tidak ada angin yang berbisik, seorang gitaris ini
mengungkapkan perasaannya padaku. Hingga tiba saatnya, di hari minggu, dimana aku sedang duduk di
sebuah taman dekat gereja tempat Siska beribadah, aku seperti melihat sosok
laki-laki yang berhasil mengambil hatiku itu, dengan seorang gadis kecil berjalan
di belakang Siska yang sedang berjalan menghampiriku. Aku berusaha untuk tidak
menghiraukan orang-orang yang lewat disekitarku, dan terus berbicara dengan
Siska. Namun, mulutku mengeluarkan suara pelan, menyebut namanya, kak Ardy…
Siska menoleh ke kanan dan ke kiri.
“kak Ardy? Mana, Put?”, tanya Siska
dengan nada sedikit panik.
Dalam hati aku berkata, apakah benar itu
kak Ardy? Pandanganku lurus melewati paras Siska yang sedang duduk di depanku.
Ku miringkan badanku ke kanan, dan memicingkan mata. Sambil berfikir, benarkah?
Siska menoleh ke belakang, dan membelakangi wajahku.
Sambil berdiri perlahan, aku memrapikan
jaket biru yang ku kenakan, dan memanggilnya.
“kak Ardy!”, suaraku tiba-tiba lantang.
Seorang laki-laki itu berlari
menghampiri aku dan Siska.
“kak Ardy ngapain disini?”, tanyaku
penasaran.
Wajahnya bingung, seolah ada sesuatu
yang ia sembunyikan dariku. Dan aku benar-benar terkejut saat ku lihat salib di
lehernya. Dan aku melirik gadis kecil yang digandengnya itu, rasanya tidak
asing.
“loh, kakak? Bukannya kakak yang kemarin
beli kertas di tokoku, kan?”, gadis bermata sipit itu berkata padaku.
“loh? Kamu, dek?”.
“iya, kak. Inget aku, kan? Ini kakakku”,
gadis cina yang di toko kemarin itu menepuk bahu kak Ardy.
“Jadi…”, kecewanya aku saat itu.
“Put, maafin aku”, kak Ardy meraih
tanganku dengan penuh harapan.
“Siska, kamu tau tentang ini, kan?
Kenapa kamu ngga bilang ke aku? Kenapa kamu ngga cerita kalau kak Ardy itu… ah
sudahlah!”.
Aku benar-benar kaget saat aku tahu,
mungkin aku mencintai orang yang salah. Sampai sahabat yang sangat aku sayangi,
tega, dan ikut dalam kebohongan yang dibuat oleh Ardy. Tanpa berpikir panjang
lagi, aku segera meninggalkan kak Ardy dan Siska yang berdiri kaku di depanku.
Suara hentakan sepatunya masih terdengar
jelas, dia mengejarku sampai ke bibir jalan.
“Put, maafin aku. Aku ga bermaksud
bohongin kamu”.
Kubalikkan badanku menghadapnya.
“Kenapa kamu ngga jujur dari awal kalau
kamu non muslim?”.
“Aku takut kamu ngga terima aku, Put.
Sumpah, aku ga ada maksud mainin perasaan kamu. Aku sayang kamu, Putri”.
Hati ini sudah terlanjur mencintai.
Tapi, hati ini juga sudah terlanjur kecewa dengan kebohongan besar yang dia
sembunyikan dari aku. Kenapa aku mencintai orang yang salah? Dan kini
pertanyaanku sudah terjawab, alasan mengapa dia tak kunjung mengungkapkan
perasaannya kepadaku. Aku akan pergi, sebelum nantinya terlalu jauh, dan
semakin menyakitkan.
Kondisiku kian melemah. Dan sudah
saatnya, aku tidak tidur di kamar rumahku. Dokter menyarankan agar aku dirawat
di tempatnya bekerja, rumah sakit. Kanker ini sudah menyebar ke seluruh
tubuhku, katanya.
Ini membosankan. Makanan, suasana, tidak
seperti biasanya. Saat aku sedang menulis-nulis di binder kesayanganku, ketukan
pintu kamar tempatku dirawat berbunyi. Tok..tokk..
Ternyata Siska dan kak Ardy datang
menjengukku. Membawa satu plastik buah-buahan dan roti tawar, mereka berjalan
menuju aku yang sedang berbaring di atas kasur rumah sakit. Sepenuh hati aku
berusaha untuk tidak mengingat-ingat kejadian kemarin.
“Put, kamu sakit apa? Tadi aku ke
rumahmu, kata tetanggamu kamu di opname di rumah sakit”, tanya Siska.
Aku tidak ingin berkata bahwa kanker ini
sudah menginap di tubuhku sejak lama.
“Cuma capek aja, kok. Makasih, ya, udah
jengukin”.
“Put, kamu masih marah sama aku?”, suara
rupawan kak Ardy menembus telingaku.
“Udah lah, kak. Santai aja. Lupain yang
kemarin”.
“Thanks yaa, Put. Nanti kalau kamu udah
baikan, udah ngga nginep disini lagi, aku janji, aku bakal ngajak kamu
jalan-jalan kemanapun kamu mau”.
Haruskah aku menjawab iya? Walau
sebenarnya benar itu yang kuinginkan. Tapi, kali ini, ku mantapkan untuk
membalasnya dengan senyuman.
Aku sudah lelah.
“Put, keluar dulu ya”, Siska dan kak
Ardy beranjak keluar dari kamar yang dingin ini.
“Makasih yaa, Siska, kak Ardy”.
Ku buka kembali binder yang ku letakkan
di atas perutku ini. Dan mulai menuliskan sesuatu di dua kertas terakhir di
dalam binderku.
Papa,
terima kasih untuk semuanya. Papa jaga diri baik-baik, ya. Putri lelah melawan
kanker yang tak kunjung sembuh ini. Putri ngga kuat, Pa. Putri sayang Papa..
Siska,
terima kasih atas waktumu, waktu yang kita habiskan bersama dengan semua
perbedaan kita. Kak Ardy, terima kasih juga untuk warna-warni yang sudah kamu
lukiskan dikehidupanku, disisa-sisa umurku. Agama kita memang berbeda, dan kita
memang tidak ditakdirkan untuk bersatu. Siska, jaga kak Ardy yaa. Terima kasih
untuk semuanya, Putri sayang kalian.
“Ini bindernya, Om”, Siska memberikan
binder kesayangan Putri, yang berisi semua cerita hidupnya.
Siska tak henti menahan air matanya saat
membaca semua isi binder Putri tentang kehidupannya. Siska merasa sangat
bersalah atas keputusannya untuk menyembunyikan agama Ardy, orang yang
disayangi Putri. Penyesalan memang selalu menakutkan dan menyakitkan. Tapi,
itulah kenyataannya.
Ardy, juga merasa sangat bersalah,
mengapa dia tidak jujur dari awal saja kalau dia non muslim, yang sebenarnya
memiliki perasaan sama dengan Putri, gadis remaja berusia 17 tahun yang harus
berjuang melawan kankernya, hingga ia merasa sudah tak kuat lagi untuk
memperjuangkan dirinya melawan penyakitnya.
“Siska, Ardy. Maafkan Putri, ya kalau
dia ada salah sama kalian”, Papa Putri berkata sambil menahan tangisnya.
Putri sudah benar-benar pergi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar