Sabtu, 29 November 2014

Tulisan Putri



Ini kali pertama aku menuliskan sebuah nama kaum Adam yang berhasil mencuri perhatianku. Dengan tinta kebahagiaan di atas kertas yang masih suci, hati yang sebelum ini tak memiliki rasa asin, manis, pahit kehidupan tentang mencintai orang lain, selain keluarga dan sahabat. Untuk dia, yang berhasil melukiskan pelangi indah di atas kanvas kehidupanku. Dia, yang berhasil menjadi penghapus setiap air mata kesedihan atas kerasnya hidup ini. Dan dia, yang aku sayangi dengan ikhlas.

Duduk santai di sudut ruang belajarku di sekolah menengah atas, pagi ini terasa sangat indah, walaupun aku tahu, pagi ini sang awan di kota tempatku dibesarkan sedang bersedih, dan mungkin akan menangis. Sambil mengeluarkan secarik kertas dan kayu kecil panjang yang sudah ku kerat selancip mungkin tadi malam, pensil ini membawa jemariku untuk menuliskan sesuatu. Ku tengok keluar kayu yang membingkai kaca bening di samping tempat dudukku, dan berfikir tentang apa yang akan ku tulis di pagi ini. Saat angin mendung menyapaku, sesuatu terbesit dalam otakku. Ardy. Dan aku mulai menuliskan empat huruf tersebut di atas kertas putih itu, dan akan ku letakkan dalam binder kesayanganku.
“Eh, Put, ngapain?”, suara kecil itu mampir di telinga yang tertutup kerudung ini.
“Menurutmu, apakah aku terlihat seperti seseorang yang sedang bernyanyi?”, jawabku sedikit kesal karena Siska memecah konsentrasiku.
“Maafkan aku, Put. Aku ga ada maksud ganggu kok”.
Aku hanya terdiam dan kembali menatap satu lembar kertas yang ada di depanku.
“A-R-D-Y. Oh, itu laki-laki yang berhasil mengubah hidupmu menjadi lebih ceria? Aku yakin, pasti dia orang baik”. 
Tiba-tiba tanganku berhenti meliuk-liukkan pensil, dan menoleh kepada temanku yang satu-satunya berkacamata di kelas kecil ini, dan aku bertanya,“benarkah?”. Siska tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Dan aku berharap, semoga pilihanku ini tidak salah, menjadikannya seseorang yang pantas aku sayangi.
Jam sekolah usai, aku bergegas pulang ke rumah, karena tidak ingin melalaikan amanat dari guru, pulang sekolah langsung pulang ke rumah masing-masing, ya, Nak!. Saat perjalanan menuju tempat parkir sepeda motor, tiba-tiba ada sesuatu yang bergetar dari dalam tas ranselku. Ada pesan baru darinya.
“Selamat siang, dek, udah pulang sekolah, kan?”, pesan singkat yang menggetarkan jiwa ini.
“Udah kok, ini lagi di parkiran kak, mau ambil motor terus balik ke rumah. Kamu?”.
“Iya, ini juga udah mau selesai kelasnya”.
“iya, ada bimbingan belajar, kan? Belajar yang bener, yah”.
“pasti dong. Kamu hati-hati, ya”.
Benar-benar laki-laki yang bisa mendinginkan hati dan pikiran ini. Aku mencintainya.
Tak terasa, hari demi hari telah kami lalui bersama. Menghabiskan waktu luang dengan orang-orang yang dicintai, memang tak terasa lama. Sakit ini benar-benar tak terasa menggerogoti sisa-sisa umurku. Dan tak terasa, ini sudah satu bulan terakhir aku tak bertemu dengan orang penting yang mengenakan jas putih, di gedung bertingkat berbau obat itu.
Siang yang cukup mendung dan membuatku malas untuk beranjak dari tempat tidur yang sangat empuk ini. Tapi aku bisa apa, saat papa sudah memanaskan mesin mobilnya dan siap untuk membawaku keluar dari rumah ini.
“Putri, ayo. Papa tunggu di depan, ya”, teriakkan papa terdengar saat aku sedang sibuk mencari jaket.
“Iya, Pa, bentar. Putri lagi nyari jaket”, jawabku.
Dalam hitungan detik akhirnya aku menemukan kain yang akan ku pakai untuk menyelimuti tubuh kurusku ini, dan bergegas lari menuju halaman rumah, karena aku tak ingin membuat sosok yang selalu ada untukku itu menunggu terlalu lama. Dengan wibawanya, papa mengantarku sampai rumah sakit.
Menunggu panggilan memang membosankan. Duduk di kursi yang dingin ini lagi, menunggu sekian menit, kadang sampai sekian jam. Dengan Papa, aku ditemani. Sambil merangkulku, Papa tiba-tiba tersenyum. 
“Kenapa, Pa?”, tanyaku bingung.
Papa hanya menggelengkan kepalanya, tak menjawab tanya singkatku, seolah pertanyaanku tidak penting untuk dijawab. Mulutku tak berhenti bernyanyi lagu, apa saja, yang spontan keluar. Lalu, handphoneku tiba-tiba berdering, memecah konsentrasiku yang sedang konser tunggal. Ardy.
“Siapa, Put? Diangkat dulu, mungkin penting”, kata Papa.
“iya, Pa”.
Ku angkat telpon dari Ardy, dan beranjak meninggalkan papa yang sedang duduk bersebelahan dengan pasien lain.
“iya? Ada apa?”, tanyaku singkat,
“Put, doakan aku sukses ya, manggung sore ini. Sekarang lagi check sound”.
“aku selalu mendoakan yang terbaik buat kamu dan teman-temanmu”.
“kamu lagi dimana, Put?”.
Seketika keringat dingin keluar dari tubuhku. Rasanya mulut ini kaku untuk berkata sejujurnya. Di dalam hati aku berkata, maafkan aku Ardy.
“aku lagi di kantor papa, pengen main kesini hehehe”.
“oh pantes aja kok agak sepi gitu. Biasanya kalo di rumah jam segini kan kamu lagi sibuk nonton tv”, jelasnya sambil tertawa.
“yaudah, Ar, aku dipanggil papa nih. Sukses yaa festivalnya”.
Akhir pekan, dibulan kedua kedekatanku dengan kak Ardy. Tak ada tanda-tanda kejelasan dari hubungan kami yang kian dekat ini. Terkadang aku berfikir, apakah aku hanya dijadikan pelarian olehnya? Apakah ini hanya modus belaka? Oh Tuhan, ini benar-benar mengganggu pikiranku. Dan terkadang aku juga berfikir, apakah harus aku yang memulai?
Jumat siang, sekitar pukul sebelas saat aku harus pergi ke sebuah toko milik orang cina, yang menjual kertas untuk isi binderku yang sudah habis kuisi dengan tulisan-tulisan dan gambar-gambar, aku merasakan ada dia di dekat sini. Semakin aku mencoba mengabaikan pikiran yang membuatku gelisah ini, pikiran ini semakin tidak karuan. 
Seorang anak perempuan, anak pemilik toko ini memberikan sebendel kertas putih yang kutunjuk barusan. Tak sengaja aku memperhatikan wajah anak perempuan yang ada di depanku, yang sedang menghitung habis berapa belanjaanku. Semakin lama, semakin ku kenali wajahnya. Rasanya tidak asing ku lihat. Tiba-tiba...
“Kak? Kenapa ngeliatin aku gitu banget? Ada yang aneh?”, tanya si gadis cina berkalung salib ini padaku.
Ku balas dengan senyum malu sekaligus bingung.
“Hehe engga, dek. Cuma kok wajahmu ngga asing diliat gitu”.
“Yaelah, kak. Aku kira ada yang aneh. Biasanya kan mama yang jaga toko, mama lagi sibuk di dapur kak, jadi aku gantiin mama dulu”.
“Oh iya, ya. Pantes aja wajahmu ngga asing, ternyata mirip mamamu hahaha”, tawaku memecah suasana bingung tadi.
Sesampainya di rumah, setelah cukup lama berpanas ria tadi, ternyata ada Siska di ruang tamuku.
“Loh, Siska. Kok ngga bilang dulu kalau mau main kesini?”.
“Mampir aja, Put. Tadi abis dari minimarket di depan. Eh iya, gimana sama kak Ardy? Masih digantungin?”.
Pertanyaan Siska membuatku teringat kembali dengan sosok laki-laki yang namanya sering ku tulis di binder kesayanganku itu. Aku hanya menganggukkan kepalaku dengan ekspresi wajah pasrah.
“Dia pasti punnya alasan kok, Put, kenapa dia gantungin kamu”.
Mendengar Siska menasihatiku, aku berfikir. Sambil memeluk bantal kursi, aku berkata dan meyakinkan diriku sendiri di dalam hati, mungkin dia takut nantinya akan melukaiku, mungkin dia masih belum menemukan waktu yang tepat untuk memberiku kepastian atas semua rasa nyaman yang selama ini dia beri kepadaku.
“eh, Put. Udah hampir jam dua belas, ya. Aku ke gereja dulu ya, ada pelajaran agama”, Siska menghancurkan lamunanku.
Setelah aku menganggukkan kepalaku yang mulai terasa pusing karena sudah waktunya jam makan siang, sahabatku yang menganut agama kristen ini bergegas keluar dari rumahku. Dan aku pun beranjak menuju ruang makan, mencari sesuatu yang bisa membuat perut ini terisi.
Tak terasa ini sudah bulan Desember, memasuki bulan ketiga. Masih tidak ada angin yang berbisik, seorang gitaris ini mengungkapkan perasaannya padaku. Hingga tiba saatnya, di  hari minggu, dimana aku sedang duduk di sebuah taman dekat gereja tempat Siska beribadah, aku seperti melihat sosok laki-laki yang berhasil mengambil hatiku itu, dengan seorang gadis kecil berjalan di belakang Siska yang sedang berjalan menghampiriku. Aku berusaha untuk tidak menghiraukan orang-orang yang lewat disekitarku, dan terus berbicara dengan Siska. Namun, mulutku mengeluarkan suara pelan, menyebut namanya, kak Ardy…
Siska menoleh ke kanan dan ke kiri.
“kak Ardy? Mana, Put?”, tanya Siska dengan nada sedikit panik.
Dalam hati aku berkata, apakah benar itu kak Ardy? Pandanganku lurus melewati paras Siska yang sedang duduk di depanku. Ku miringkan badanku ke kanan, dan memicingkan mata. Sambil berfikir, benarkah? Siska menoleh ke belakang, dan membelakangi wajahku.
Sambil berdiri perlahan, aku memrapikan jaket biru yang ku kenakan, dan memanggilnya.
“kak Ardy!”, suaraku tiba-tiba lantang.
Seorang laki-laki itu berlari menghampiri aku dan Siska.
“kak Ardy ngapain disini?”, tanyaku penasaran.
Wajahnya bingung, seolah ada sesuatu yang ia sembunyikan dariku. Dan aku benar-benar terkejut saat ku lihat salib di lehernya. Dan aku melirik gadis kecil yang digandengnya itu, rasanya tidak asing.
“loh, kakak? Bukannya kakak yang kemarin beli kertas di tokoku, kan?”, gadis bermata sipit itu berkata padaku.
“loh? Kamu, dek?”.
“iya, kak. Inget aku, kan? Ini kakakku”, gadis cina yang di toko kemarin itu menepuk bahu kak Ardy.
“Jadi…”, kecewanya aku saat itu.
“Put, maafin aku”, kak Ardy meraih tanganku dengan penuh harapan.
“Siska, kamu tau tentang ini, kan? Kenapa kamu ngga bilang ke aku? Kenapa kamu ngga cerita kalau kak Ardy itu… ah sudahlah!”.
Aku benar-benar kaget saat aku tahu, mungkin aku mencintai orang yang salah. Sampai sahabat yang sangat aku sayangi, tega, dan ikut dalam kebohongan yang dibuat oleh Ardy. Tanpa berpikir panjang lagi, aku segera meninggalkan kak Ardy dan Siska yang berdiri kaku di depanku.
Suara hentakan sepatunya masih terdengar jelas, dia mengejarku sampai ke bibir jalan.
“Put, maafin aku. Aku ga bermaksud bohongin kamu”.
Kubalikkan badanku menghadapnya.
“Kenapa kamu ngga jujur dari awal kalau kamu non muslim?”.
“Aku takut kamu ngga terima aku, Put. Sumpah, aku ga ada maksud mainin perasaan kamu. Aku sayang kamu, Putri”.
Hati ini sudah terlanjur mencintai. Tapi, hati ini juga sudah terlanjur kecewa dengan kebohongan besar yang dia sembunyikan dari aku. Kenapa aku mencintai orang yang salah? Dan kini pertanyaanku sudah terjawab, alasan mengapa dia tak kunjung mengungkapkan perasaannya kepadaku. Aku akan pergi, sebelum nantinya terlalu jauh, dan semakin menyakitkan.
Kondisiku kian melemah. Dan sudah saatnya, aku tidak tidur di kamar rumahku. Dokter menyarankan agar aku dirawat di tempatnya bekerja, rumah sakit. Kanker ini sudah menyebar ke seluruh tubuhku, katanya.
Ini membosankan. Makanan, suasana, tidak seperti biasanya. Saat aku sedang menulis-nulis di binder kesayanganku, ketukan pintu kamar tempatku dirawat berbunyi. Tok..tokk..
Ternyata Siska dan kak Ardy datang menjengukku. Membawa satu plastik buah-buahan dan roti tawar, mereka berjalan menuju aku yang sedang berbaring di atas kasur rumah sakit. Sepenuh hati aku berusaha untuk tidak mengingat-ingat kejadian kemarin.
“Put, kamu sakit apa? Tadi aku ke rumahmu, kata tetanggamu kamu di opname di rumah sakit”, tanya Siska.
Aku tidak ingin berkata bahwa kanker ini sudah menginap di tubuhku sejak lama.
“Cuma capek aja, kok. Makasih, ya, udah jengukin”.
“Put, kamu masih marah sama aku?”, suara rupawan kak Ardy menembus telingaku.
“Udah lah, kak. Santai aja. Lupain yang kemarin”.
“Thanks yaa, Put. Nanti kalau kamu udah baikan, udah ngga nginep disini lagi, aku janji, aku bakal ngajak kamu jalan-jalan kemanapun kamu mau”.
Haruskah aku menjawab iya? Walau sebenarnya benar itu yang kuinginkan. Tapi, kali ini, ku mantapkan untuk membalasnya dengan senyuman.
Aku sudah lelah.
“Put, keluar dulu ya”, Siska dan kak Ardy beranjak keluar dari kamar yang dingin ini.
“Makasih yaa, Siska, kak Ardy”.
Ku buka kembali binder yang ku letakkan di atas perutku ini. Dan mulai menuliskan sesuatu di dua kertas terakhir di dalam binderku.
Papa, terima kasih untuk semuanya. Papa jaga diri baik-baik, ya. Putri lelah melawan kanker yang tak kunjung sembuh ini. Putri ngga kuat, Pa. Putri sayang Papa..
Siska, terima kasih atas waktumu, waktu yang kita habiskan bersama dengan semua perbedaan kita. Kak Ardy, terima kasih juga untuk warna-warni yang sudah kamu lukiskan dikehidupanku, disisa-sisa umurku. Agama kita memang berbeda, dan kita memang tidak ditakdirkan untuk bersatu. Siska, jaga kak Ardy yaa. Terima kasih untuk semuanya, Putri sayang kalian.
“Ini bindernya, Om”, Siska memberikan binder kesayangan Putri, yang berisi semua cerita hidupnya.
Siska tak henti menahan air matanya saat membaca semua isi binder Putri tentang kehidupannya. Siska merasa sangat bersalah atas keputusannya untuk menyembunyikan agama Ardy, orang yang disayangi Putri. Penyesalan memang selalu menakutkan dan menyakitkan. Tapi, itulah kenyataannya.
Ardy, juga merasa sangat bersalah, mengapa dia tidak jujur dari awal saja kalau dia non muslim, yang sebenarnya memiliki perasaan sama dengan Putri, gadis remaja berusia 17 tahun yang harus berjuang melawan kankernya, hingga ia merasa sudah tak kuat lagi untuk memperjuangkan dirinya melawan penyakitnya.
“Siska, Ardy. Maafkan Putri, ya kalau dia ada salah sama kalian”, Papa Putri berkata sambil menahan tangisnya.
Putri sudah benar-benar pergi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Text Widget

Text Widget

Popular Posts

Pages

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Unordered List

Followers

Recent Posts